Bahan Sudah Terkumpul, tetapi Latar Belakang Skripsi Belum Jadi? Begini Cara Menyusunnya

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Riset
  • Reading time:15 mins read

Di dalam laptop seorang mahasiswa PGSD tersimpan puluhan artikel ilmiah, beberapa berita pendidikan, hasil pemetaan VOSviewer, catatan teori, dan tabel perbandingan penelitian terdahulu.

Ia sudah bekerja cukup jauh. Bahkan mungkin lebih jauh daripada ketika pertama kali diminta mencari topik skripsi.

Namun, ketika membuka dokumen baru dan mengetik judul BAB I PENDAHULUAN, kebingungan itu datang lagi.

Apa yang harus ditulis pada paragraf pertama?

Apakah dimulai dari pentingnya pendidikan? Pengertian menulis kreatif? Data literasi? Atau langsung menjelaskan kesulitan siswa dalam menulis cerita?

Semua bahan tersedia, tetapi belum terlihat bagaimana bahan tersebut harus disusun.

Di sinilah kita perlu membedakan dua pekerjaan yang sering dianggap sama: mengumpulkan bahan penelitian dan membangun argumentasi latar belakang.

Mengumpulkan bahan berarti mencari informasi yang dapat membantu memahami persoalan. Membangun argumentasi berarti memilih informasi yang relevan, menghubungkannya secara logis, lalu memperlihatkan mengapa penelitian perlu dilakukan.

Pada empat artikel sebelumnya, kita sudah melakukan penggalian menggunakan Publish or Perish, VOSviewer, Google News, Lens.org, dan ChatGPT. Sekarang kita akan menggunakan hasilnya untuk menyusun latar belakang skripsi.

Namun, kita tidak akan meminta ChatGPT langsung membuat sepuluh paragraf berdasarkan judul penelitian.

Kita akan menyusun jalur argumentasinya terlebih dahulu.

1. Periksa dahulu apakah bahan latar belakang sudah lengkap

Dalam kerangka riset yang kita gunakan, terdapat sepuluh komponen yang membantu membangun latar belakang penelitian.

Komponen tersebut adalah pemahaman umum topik, fenomena saat ini, fenomena terdahulu, keadaan seharusnya menurut teori, kesenjangan kondisi dan teori, urgensi penelitian, rencana pendekatan solusi, posisi penelitian, research gap, dan novelty.

Sepuluh komponen ini bukan berarti latar belakang harus terdiri atas sepuluh paragraf.

Satu komponen bisa membutuhkan beberapa paragraf, sedangkan dua komponen yang berhubungan dapat dijelaskan dalam satu rangkaian argumentasi.

Sebelum mulai menulis, periksa hasil penggalian yang sudah dimiliki.

KomponenBahan yang seharusnya tersedia
Pemahaman umumKonsep utama topik penelitian beserta sumber ilmiah
Fenomena saat iniFakta sosial dan pendidikan yang relevan
Fenomena terdahuluCatatan perkembangan fenomena berdasarkan waktu
Keadaan menurut teoriTeori terapan dan aspek yang dapat digunakan untuk analisis
Kesenjangan kondisi dan teoriPerbandingan bukti empiris dengan keadaan yang diharapkan
UrgensiAlasan penelitian penting dilakukan dalam konteks sekarang
Rencana pendekatan solusiArah penelitian dalam memahami atau menangani persoalan
Posisi penelitianObjek material, konteks, dan sudut analisis
Research gapKeterbatasan pengetahuan yang didukung telaah literatur
NoveltyCalon kontribusi yang dapat diberikan penelitian

Perhatikan bahwa kelengkapan komponen tidak sama dengan kelengkapan bukti.

Misalnya, kita mungkin sudah mempunyai gagasan tentang kesenjangan, tetapi belum memperoleh data yang menunjukkan kondisi siswa pada sekolah sasaran.

Jika demikian, komponen tersebut belum siap dinyatakan sebagai fakta.

Jangan mengisi kekosongan data dengan kalimat yang terdengar ilmiah.

Lebih baik tandai bagian yang masih harus diperiksa.

2. Jangan mulai menulis sebelum menemukan jalur ceritanya

Mari kembali pada contoh penelitian kita: pemanfaatan pengalaman pribadi siswa dalam pembelajaran menulis kreatif di sekolah dasar.

Dari artikel pertama, kita memperoleh gagasan tentang hubungan experience, writer, dan practice.

Dari artikel kedua, kita menelusuri fenomena literasi dan pembelajaran menulis.

Dari artikel ketiga, kita mempelajari perkembangan fenomena serta kemungkinan penggunaan teori proses menulis.

Dari artikel keempat, kita mengetahui bahwa pengalaman pribadi ternyata sudah digunakan dalam sejumlah penelitian tentang tulisan anak.

Sekarang muncul persoalan.

Bagaimana menghubungkan semua informasi tersebut?

Kita dapat memulainya dari satu pertanyaan:

Apa yang perlu diketahui pembaca agar dapat memahami mengapa penelitian ini dilakukan?

Pembaca perlu memahami terlebih dahulu bahwa menulis kreatif merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran bahasa. Setelah itu, ia perlu mengetahui bagaimana kegiatan tersebut berlangsung dan persoalan apa yang ditemukan.

Barulah kita membandingkan persoalan tersebut dengan penjelasan teoretis, menunjukkan pentingnya penelitian, dan memperlihatkan posisi penelitian di antara kajian yang telah tersedia.

Dengan demikian, latar belakang bergerak melalui jalur yang relatif jelas:

Topik → Fenomena → Perkembangan → Teori → Kesenjangan → Urgensi → Arah penelitian → Posisi → Gap → Kontribusi.

Urutan ini membantu pembaca memahami argumentasi. Namun, ketika menulis, kita tetap boleh menggabungkan atau menata ulang bagian tertentu jika hubungan logisnya menjadi lebih kuat.

Yang penting bukan kesetiaan mekanis terhadap urutan, melainkan keterhubungan alasan di balik penelitian.

3. Kelompokkan hasil penggalian menjadi beberapa blok argumentasi

Daripada langsung meminta ChatGPT menulis, kelompokkan seluruh bahan menjadi empat blok.

Blok pertama menjelaskan topik dan fenomena. Di dalamnya terdapat pemahaman umum, fakta sosial, fakta pendidikan, dan perkembangan fenomena sebelumnya.

See also  Penelitian Deskriptif: Cocok Dipakai Kalau Kamu Ingin Memetakan Masalah

Blok kedua membangun persoalan. Di sini kita mempertemukan kondisi empiris dengan penjelasan teori serta menunjukkan kesenjangan dan urgensinya.

Blok ketiga menunjukkan arah penelitian. Kita menjelaskan apa yang hendak dipahami atau ditangani, sekaligus memperjelas objek material dan konteks penelitian.

Blok keempat menempatkan penelitian dalam literatur. Kita membandingkan penelitian terdahulu, menunjukkan research gap, dan menjelaskan calon kontribusinya.

Pengelompokan ini membuat sepuluh komponen lebih mudah dikelola tanpa kehilangan fungsinya.

BlokKomponenPertanyaan utama
1. Memahami medanTopik dan fenomenaApa yang sedang dan pernah terjadi?
2. Membangun persoalanTeori, kesenjangan, urgensiMengapa keadaan tersebut perlu diperhatikan?
3. Menentukan arahPendekatan solusi dan posisiApa yang akan dilakukan penelitian?
4. Menunjukkan kontribusiResearch gap dan noveltyApa yang dapat ditambahkan pada pengetahuan yang tersedia?

Setiap blok harus menghasilkan alasan yang dapat dipahami pembaca.

Jika sebuah paragraf tidak membantu menjelaskan persoalan, mungkin informasi tersebut belum perlu masuk ke latar belakang.

Tidak semua hasil pencarian harus dipamerkan.

4. Gunakan ChatGPT untuk menyusun kerangka argumentasi

Setelah bahan dikelompokkan, kita dapat menggunakan ChatGPT sebagai penyunting struktur awal.

Jangan langsung meminta draf lengkap.

Mulailah dengan mengirimkan ringkasan hasil penggalian yang sudah diverifikasi.

Gunakan prompt berikut:

Saya mahasiswa PGSD yang sedang menyusun latar belakang skripsi tentang pemanfaatan pengalaman pribadi siswa dalam pembelajaran menulis kreatif.

Saya sudah melakukan penelusuran literatur, fenomena sosial dan pendidikan, teori, kesenjangan empiris, serta penelitian terdahulu.

Berikut bahan penelitian yang sudah saya kumpulkan:

[Tempelkan ringkasan hasil penggalian beserta sumbernya]

Bantu saya menyusun kerangka argumentasi latar belakang berdasarkan sepuluh komponen berikut:

  1. Pemahaman umum topik.
  2. Fenomena saat ini.
  3. Fenomena terdahulu.
  4. Keadaan seharusnya menurut teori.
  5. Kesenjangan kondisi dan teori.
  6. Urgensi penelitian.
  7. Rencana pendekatan solusi.
  8. Posisi penelitian.
  9. Research gap.
  10. Novelty.

Kelompokkan komponen yang saling berhubungan menjadi blok argumentasi yang runtut.

Untuk setiap blok, jelaskan gagasan utama, bukti pendukung, hubungan dengan blok berikutnya, dan informasi yang masih belum tersedia.

Jangan menulis paragraf lengkap dahulu. Jangan menciptakan data, sitasi, atau menyatakan gap dan novelty yang belum dibuktikan.

Mengapa kita meminta kerangka terlebih dahulu?

Karena hasil penggalian yang kaya belum tentu menghasilkan tulisan yang runtut.

ChatGPT dapat membantu menunjukkan apabila dua paragraf mengulang gagasan yang sama, sebuah kesimpulan muncul terlalu cepat, atau bagian tertentu belum mempunyai bukti.

Namun, ChatGPT hanya bisa memeriksa berdasarkan informasi yang diberikan atau sumber yang benar-benar berhasil diaksesnya.

Jika data belum tersedia, tidak ada prompt yang dapat mengubahnya menjadi fakta.

5. Jangan abaikan urgensi penelitian

Dalam proses menyusun latar belakang, urgensi sering berubah menjadi kalimat penutup yang mudah ditebak:

“Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan.”

Kalimat tersebut tidak menjelaskan apa pun jika tidak didahului alasan yang cukup.

Urgensi bukan sekadar pernyataan bahwa topik penelitian menarik. Kita perlu menunjukkan mengapa persoalan tersebut layak mendapat perhatian.

Dalam penelitian menulis kreatif siswa SD, urgensi mungkin berkaitan dengan pentingnya memahami hambatan siswa dalam mengembangkan pengalaman menjadi cerita, kebutuhan guru untuk mengetahui proses belajar siswa, atau keterbatasan penjelasan yang tersedia dalam penelitian terdahulu.

Namun, semuanya harus diperiksa berdasarkan bukti.

Untuk menguji urgensi, gunakan prompt berikut:

Berdasarkan fenomena, teori, dan penelitian terdahulu yang sudah saya berikan, bantu saya menilai urgensi penelitian.

Bedakan:

  1. Pentingnya persoalan bagi proses pembelajaran siswa SD.
  2. Konsekuensi apabila persoalan tidak dipahami atau ditangani.
  3. Alasan penelitian relevan dilakukan pada konteks sekarang.
  4. Kontribusi pengetahuan yang mungkin diperoleh.

Untuk setiap alasan, tunjukkan bukti yang mendukung dan informasi yang masih kurang.

Jangan menggunakan pernyataan umum seperti “penelitian ini sangat penting” tanpa penjelasan konkret.

Ada satu hal yang perlu diingat.

Penelitian tidak harus dianggap mendesak karena persoalannya baru muncul. Masalah yang sudah lama terjadi pun dapat mempunyai urgensi apabila dampaknya penting atau pemahamannya masih terbatas.

Jadi, jangan memaksakan kata sekarang hanya untuk membuat urgensi terdengar kuat.

6. Bedakan rencana pendekatan solusi dengan janji menyelesaikan masalah

Mahasiswa PGSD sering ingin menutup latar belakang dengan menawarkan metode, media, atau strategi pembelajaran.

Misalnya, setelah menemukan bahwa siswa kesulitan menulis cerita, mahasiswa langsung menyatakan bahwa pemanfaatan pengalaman pribadi dapat meningkatkan keterampilan menulis kreatif.

Padahal, kita belum tentu mempunyai bukti bahwa strategi itu efektif pada konteks yang akan diteliti.

Arah penelitian perlu disesuaikan dengan pertanyaan yang diajukan.

Jika penelitian ingin memahami bagaimana siswa mengolah pengalaman pribadi menjadi cerita, maka kontribusi utamanya mungkin berupa penjelasan tentang proses menulis.

Jika penelitian ingin menguji efektivitas suatu strategi berbasis pengalaman pribadi, maka kita perlu rancangan pengujian dan ukuran hasil yang sesuai.

See also  Penelitian Studi Kasus: Cocok Dipakai Kalau Kamu Ingin Membaca Satu Kasus secara Mendalam

Keduanya merupakan pekerjaan yang berbeda.

Karena itu, sebelum menulis rencana pendekatan solusi, coba periksa:

Apakah penelitian ini hendak memahami persoalan, menguji suatu tindakan, atau mengembangkan sesuatu?

Jawabannya akan memengaruhi cara kita menjelaskan arah penelitian dalam latar belakang.

Jangan menjanjikan perubahan kemampuan siswa apabila penelitian tidak dirancang untuk menguji perubahan tersebut.

Sebaliknya, penelitian yang bertujuan memahami proses tetap dapat memberi kontribusi penting bagi praktik pembelajaran.

Tidak setiap penelitian harus datang membawa obat. Ada penelitian yang pekerjaannya justru memastikan diagnosisnya benar.

7. Mulai menyusun paragraf menggunakan bukti yang tersedia

Setelah kerangka argumentasi jelas, barulah kita menggunakan ChatGPT untuk membantu menyusun draf.

Namun, jangan memasukkan semua catatan sekaligus jika bahan terlalu panjang dan belum terorganisasi.

Kerjakan per blok.

Untuk blok pertama, misalnya, kirimkan ringkasan pemahaman topik, fakta sosial, fakta pendidikan, dan fenomena terdahulu.

Kemudian gunakan prompt:

Susun draf bagian awal latar belakang skripsi berdasarkan informasi berikut:

[Tempelkan bahan blok pertama beserta sumber]

Gunakan bahasa Indonesia akademik yang jelas, runtut, dan tidak berlebihan.

Mulailah dari pemahaman topik, kemudian arahkan pembaca pada fenomena yang relevan di sekolah dasar.

Gunakan hanya fakta dan sumber yang saya berikan.

Pertahankan identitas sumber pada setiap klaim yang memerlukan dukungan.

Jika terdapat informasi yang belum cukup, berikan penanda [PERLU DATA] dan jelaskan data yang diperlukan.

Hindari pembuka yang terlalu umum seperti “Pendidikan merupakan kebutuhan fundamental bagi setiap manusia”.

Jangan menyimpulkan masalah penelitian sebelum buktinya diperlihatkan.

Hasilnya mungkin berupa dua atau tiga paragraf.

Bacalah kembali setiap kalimat.

Apakah pernyataan tersebut didukung sumber? Apakah konteksnya sesuai? Apakah ada kesimpulan yang terlalu luas?

Misalnya, sebuah penelitian terhadap 50 siswa pada satu konteks sekolah tidak cukup untuk menyimpulkan kondisi seluruh siswa SD di Indonesia.

Begitu pula berita tentang kegiatan literasi di satu kota tidak otomatis menggambarkan kondisi nasional.

Kita boleh menggunakan fakta tersebut, tetapi harus mempertahankan cakupannya.

Setelah blok pertama diperiksa, lanjutkan blok kedua, ketiga, dan keempat menggunakan cara serupa.

8. Jangan biarkan ChatGPT menghapus jejak sumber

Salah satu risiko menggunakan AI untuk menyusun tulisan akademik adalah hilangnya hubungan antara klaim dan sumber.

Misalnya, catatan awal memuat temuan penelitian, nama penulis, tahun, dan konteksnya.

Setelah diringkas beberapa kali oleh ChatGPT, informasi tersebut bisa berubah menjadi pernyataan umum seperti:

“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman pribadi efektif meningkatkan kreativitas menulis siswa.”

Kalimat ini bermasalah jika artikel yang dibaca sebenarnya tidak menguji efektivitas pengalaman pribadi.

Untuk mencegahnya, buat tabel pemeriksaan klaim.

Klaim dalam drafSumberStatus pemeriksaan
Penelitian terdahulu membahas penggunaan pengalaman pribadi dalam menulis narasiArtikel yang sudah dibacaPeriksa kesesuaian temuan
Siswa pada sekolah sasaran kesulitan mengembangkan ideData lapanganBelum boleh dinyatakan jika belum diperoleh
Teori proses menulis menjelaskan kegiatan perencanaan dan revisiSumber teori utamaPeriksa konsep dan penerapannya

Gunakan tanda khusus untuk klaim yang belum mempunyai dukungan.

Jangan meminta ChatGPT menciptakan sitasi untuk melengkapi paragraf.

Jika sebuah rujukan tidak ditemukan dalam sumber yang dapat diperiksa, jangan digunakan.

Mahasiswa tetap bertanggung jawab terhadap kebenaran fakta, kutipan, dan interpretasi yang masuk ke dalam skripsinya.

9. Periksa sambungan antarparagraf

Setelah seluruh blok selesai ditulis, gabungkan menjadi satu draf.

Pada tahap ini, masalah baru sering terlihat.

Paragraf pertama membahas pentingnya menulis kreatif. Paragraf kedua menjelaskan literasi digital. Paragraf ketiga mendadak masuk ke teori proses menulis. Paragraf berikutnya membahas research gap.

Masing-masing paragraf mungkin benar, tetapi hubungan antarbagiannya belum jelas.

Latar belakang yang baik tidak hanya terdiri atas pernyataan benar. Pernyataan tersebut juga harus terhubung menjadi alasan yang dapat diikuti pembaca.

Gunakan ChatGPT untuk memeriksa alur.

Berikut draf latar belakang skripsi saya:

[Tempelkan draf]

Bantu saya memeriksa koherensi argumentasi.

Identifikasi:

  1. Paragraf yang melompat tanpa hubungan jelas.
  2. Gagasan yang berulang.
  3. Kesimpulan yang muncul sebelum bukti pendukung.
  4. Perbedaan penggunaan istilah yang dapat membingungkan.
  5. Bagian yang terlalu deskriptif tetapi belum membantu membangun masalah penelitian.

Jangan langsung menulis ulang seluruh naskah.

Jelaskan bagian yang perlu diperbaiki dan alasan perbaikannya. Pertahankan fakta dan sitasi yang sudah ada.

Perhatikan bahwa kita tidak meminta ChatGPT mempercantik bahasa terlebih dahulu.

Kita memeriksa logikanya.

Kalimat yang halus tidak akan menyelamatkan argumentasi yang lemah.

10. Periksa apakah latar belakang benar-benar sampai pada masalah

Ada latar belakang yang tampak lengkap, mempunyai banyak sitasi, dan menggunakan istilah akademik dengan baik.

See also  Bingung Menentukan Topik Skripsi PGSD? Coba Baca Peta Penelitian dengan VOSviewer

Namun, setelah membaca lima halaman, pembaca masih bertanya: sebenarnya apa yang hendak diteliti?

Ini dapat terjadi ketika mahasiswa terlalu sibuk menjelaskan topik dan lupa membangun masalah.

Untuk memeriksanya, coba jawab empat pertanyaan berikut tanpa melihat judul penelitian.

Pertama, apa kondisi atau fenomena yang menjadi perhatian?

Kedua, apa yang membuat kondisi tersebut perlu dipahami atau ditangani?

Ketiga, apa yang sudah dijelaskan penelitian sebelumnya dan apa yang masih memerlukan pemeriksaan?

Keempat, apa persisnya yang akan dilakukan penelitian ini?

Jika keempat jawaban tersebut tidak dapat ditemukan dalam latar belakang, mungkin naskah masih membutuhkan penyusunan ulang.

Kita juga perlu memastikan bahwa urgensi, research gap, dan novelty tidak hanya muncul sebagai istilah.

Urgensi harus terlihat dari alasan pentingnya persoalan.

Research gap harus terlihat dari keterbatasan pengetahuan yang ditunjukkan melalui telaah penelitian.

Novelty harus terlihat dari kontribusi yang diajukan, bukan hanya dari perbedaan judul atau lokasi penelitian.

Jangan memperlakukan ketiganya sebagai tiga kalimat wajib di bagian akhir.

11. Gunakan ChatGPT sebagai pembaca kritis terakhir

Sekarang kita mempunyai draf latar belakang yang relatif utuh.

Sebelum diberikan kepada dosen pembimbing, lakukan pemeriksaan akhir.

Gunakan prompt berikut:

Bertindaklah sebagai pembaca kritis naskah proposal penelitian PGSD.

Saya akan memberikan draf latar belakang skripsi.

Periksa berdasarkan sepuluh komponen kerangka latar belakang: pemahaman umum, fenomena saat ini, fenomena terdahulu, teori, kesenjangan kondisi, urgensi, pendekatan solusi, posisi penelitian, research gap, dan novelty.

Untuk setiap komponen, berikan status:

  • Sudah jelas dan didukung bukti.
  • Sudah ada tetapi argumentasinya lemah.
  • Belum tersedia atau belum cukup bukti.

Selanjutnya, tunjukkan lima persoalan terpenting yang perlu diperbaiki.

Prioritaskan ketepatan fakta, kecukupan bukti, hubungan logis, dan konsistensi metodologis.

Jangan membuat referensi baru, mengubah hasil penelitian terdahulu, atau menutupi kelemahan argumentasi dengan bahasa yang lebih indah.

Berikut draf saya:

[Tempelkan latar belakang]

Hasil pemeriksaan ini dapat membantu menemukan bagian yang luput.

Namun, jangan menganggap penilaian ChatGPT sebagai keputusan akademik final.

Diskusikan naskah dengan dosen pembimbing dan periksa kembali sumber utama.

Jika ada kritik yang masuk akal, cari bukti atau perbaiki argumentasinya. Jika kritik tidak sesuai dengan data atau konteks penelitian, tidak harus diterima begitu saja.

AI dapat membantu membaca tulisan, tetapi tidak menggantikan penilaian ilmiah peneliti dan pembimbing.

12. Apakah latar belakang sudah selesai?

Setelah seluruh proses tersebut, mahasiswa mungkin sudah mempunyai draf latar belakang yang cukup matang.

Namun, ada perbedaan antara draf yang selesai ditulis dan argumentasi yang sudah layak dipertahankan.

Draf yang baik harus memungkinkan pembaca menelusuri bagaimana penelitian itu muncul.

Dari topik yang luas, mahasiswa menemukan fenomena. Dari fenomena, ia membaca persoalan. Dari persoalan, ia memeriksa teori. Dari teori dan penelitian terdahulu, ia menemukan bagian yang masih layak dipelajari.

Akhirnya, ia sampai pada satu fokus yang dapat dijelaskan.

Kita kembali pada contoh pengalaman pribadi siswa dalam menulis kreatif.

Pada awalnya, mahasiswa hanya tertarik karena pengalaman anak tampak bisa dijadikan bahan cerita.

Setelah membaca literatur, ia mengetahui bahwa pengalaman pribadi sudah digunakan dalam sejumlah penelitian. Ia pun tidak lagi mengklaim bahwa gagasan tersebut sepenuhnya baru.

Mungkin ia justru menemukan pertanyaan yang lebih khusus: bagaimana siswa memilih bagian pengalaman yang penting, mengorganisasikannya menjadi peristiwa, dan mengembangkan cerita melalui proses menulis?

Pertanyaan itu masih harus diperiksa relevansinya dengan kondisi lapangan dan pengetahuan ilmiah yang sudah tersedia.

Namun, sekarang mahasiswa mempunyai arah yang lebih jelas.

Ia tidak lagi menulis latar belakang semata-mata untuk memenuhi jumlah halaman.

Ia sedang menjelaskan perjalanan berpikir yang membuat suatu penelitian layak dilakukan.

13. Sebelum mengirimkan kepada dosen pembimbing

Lakukan pemeriksaan sederhana.

Pastikan setiap fakta memiliki sumber yang dapat diperiksa. Pastikan setiap teori memang digunakan untuk menjelaskan persoalan, bukan hanya menjadi tambahan kutipan.

Pastikan kesenjangan empiris tidak tertukar dengan research gap. Pastikan kebaruan tidak hanya didasarkan pada pergantian lokasi atau kelas penelitian.

Periksa pula apakah rumusan masalah yang akan disusun nanti benar-benar sejalan dengan fokus yang dibangun dalam latar belakang.

Jika latar belakang membicarakan proses siswa mengembangkan cerita, tetapi rumusan masalah justru ingin menguji efektivitas media pembelajaran, ada perubahan arah yang harus dijelaskan.

Terakhir, bacalah latar belakang tanpa melihat judul skripsi.

Apakah pembaca tetap dapat memahami penelitian apa yang akan dilakukan?

Jika bisa, jalur argumentasinya mulai terbentuk.

Jika belum, mungkin ada bagian yang masih perlu diperiksa.

Setelah itu, simpan draf, rapikan daftar pustaka, dan siapkan catatan sumber untuk konsultasi.

Di halaman pertama dokumen, judul BAB I PENDAHULUAN mungkin masih sama seperti ketika mahasiswa pertama kali membuka berkasnya.

Yang berubah adalah isi di bawahnya.

Dahulu, ia hanya mempunyai sejumlah kalimat tentang pentingnya pendidikan. Sekarang, setiap paragraf mempunyai pekerjaan: menunjukkan sesuatu, membandingkan sesuatu, atau membawa pembaca menuju pertanyaan berikutnya.

Dan di halaman terakhir latar belakang, penelitian itu belum memberikan jawaban.

Ia baru menunjukkan mengapa sebuah pertanyaan pantas diajukan.


Referensi dan bacaan pendukung:

  1. Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed.). SAGE Publications.
  2. Dawson, C. (2009). Introduction to Research Methods: A Practical Guide for Anyone Undertaking a Research Project (4th ed.). How To Books.
  3. Walliman, N. (2011). Research Methods: The Basics. Routledge.
  4. OpenAI. Does ChatGPT tell the truth? https://help.openai.com/en/articles/8313428-does-chatgpt-tell-the-truth
  5. VOSviewer. Documentation. https://www.vosviewer.com/documentation
  6. The Lens. Scholarly Works Search. https://support.lens.org/knowledge-base/scholarly-works-search/

Catatan penggunaan: Contoh penelitian mengenai pengalaman pribadi siswa dalam menulis kreatif digunakan sebagai benang merah sepanjang seri tutorial. Kondisi sekolah, kesenjangan empiris, dan kontribusi penelitian tidak boleh ditetapkan sebagai fakta tanpa bukti yang sesuai. ChatGPT digunakan untuk membantu mengorganisasi, menyusun, dan memeriksa argumentasi, bukan menggantikan penelusuran maupun verifikasi sumber.