Bingung Menentukan Topik Skripsi PGSD? Coba Baca Peta Penelitian dengan VOSviewer

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Riset
  • Reading time:13 mins read

Seorang mahasiswa PGSD tertarik meneliti keterampilan menulis kreatif siswa sekolah dasar. Ia sudah mempunyai gambaran tentang apa yang ingin diteliti. Mungkin siswa kesulitan menemukan ide cerita, mungkin pembelajaran menulis terasa membosankan, atau mungkin pengalaman sehari-hari anak sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk membantu mereka menulis.

Namun, ketika diminta menentukan topik skripsi, muncul kebingungan. Apakah sebaiknya meneliti keterampilan menulis? Penggunaan media pembelajaran? Pengalaman pribadi siswa? Atau teknologi seperti ChatGPT yang belakangan semakin sering dibicarakan?

Semua tampak memungkinkan. Sayangnya, ketertarikan terhadap suatu hal belum cukup untuk menjadikannya topik penelitian.

Kita perlu mengetahui apa yang sudah dibicarakan dalam penelitian sebelumnya, bagaimana berbagai konsep saling berhubungan, dan kemungkinan arah penelitian yang dapat dikembangkan dalam konteks sekolah dasar.

Untuk pekerjaan awal ini, kita bisa memanfaatkan dua aplikasi: Publish or Perish (PoP) dan VOSviewer.

Publish or Perish membantu mengumpulkan informasi publikasi berdasarkan kata kunci. VOSviewer membantu memetakan hubungan istilah yang ditemukan dalam publikasi tersebut. Dari peta itulah kita akan belajar memilih node yang berpotensi dikembangkan menjadi topik skripsi.

Tetapi jangan berharap aplikasinya langsung memberikan judul skripsi. Justru pekerjaan paling penting dimulai ketika petanya sudah muncul.

1. Mulai dari kata kunci, bukan judul skripsi

Misalnya, kita tertarik pada pembelajaran menulis kreatif di sekolah dasar.

Untuk sementara, gunakan kata kunci creative writing. Kita belum perlu menambahkan elementary school atau primary education karena ingin melihat terlebih dahulu bagaimana topik menulis kreatif dibicarakan dalam kumpulan penelitian yang lebih luas.

Buka aplikasi Publish or Perish, kemudian pilih sumber pencarian Google Scholar.

Masukkan pengaturan berikut:

PengaturanIsian
Keywordscreative writing
Publication years2022–2026
Maximum results500
SumberGoogle Scholar
Tanggal pencarian30 Oktober 2026

Setelah menekan tombol Search, diperoleh 110 rekaman publikasi dengan 2.466 sitasi yang tercatat dalam hasil pencarian.

Angka 110 bukan berarti hanya ada 110 penelitian tentang menulis kreatif selama lima tahun tersebut. Itu adalah jumlah rekaman yang diperoleh melalui pencarian dengan pengaturan tertentu.

Bahkan, tidak semua rekaman harus diperlakukan sebagai artikel penelitian yang relevan. Dalam hasil Publish or Perish mungkin terdapat buku, publikasi yang terindeks berulang, serta artikel yang hanya menyebut kata kunci tanpa membahas persoalan yang kita inginkan.

Untuk tahap eksplorasi, hasil tersebut dapat digunakan sebagai bahan awal. Namun, sebelum melakukan analisis bibliometrik yang lebih formal, kualitas dan kebersihan datanya perlu diperiksa.

Mengapa menggunakan rentang 2022–2026?

Kita ingin memperoleh gambaran penelitian yang relatif baru. Rentang ini membantu membaca perkembangan topik dalam beberapa tahun terakhir. Namun, bukan berarti penelitian sebelum 2022 tidak penting. Literatur lama tetap dapat digunakan, terutama jika berkaitan dengan teori dan konsep utama.

Setelah hasil pencarian tersedia, simpan atau ekspor rekamannya ke format RIS. Berkas ini akan menjadi bahan pemetaan dalam VOSviewer.

2. Mengubah daftar publikasi menjadi peta penelitian

Kalau kita membuka 110 rekaman satu per satu, mungkin kita membutuhkan waktu cukup panjang hanya untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan para peneliti.

VOSviewer membantu melakukan pembacaan awal dengan cara berbeda.

Buka aplikasi VOSviewer, lalu pilih:

Create → Create a map based on text data.

Selanjutnya, pilih opsi membaca data dari reference manager files, kemudian masukkan berkas RIS hasil ekspor Publish or Perish.

Pilih sumber teks berupa judul dan abstrak, sejauh informasi tersebut tersedia dalam data.

Pada bagian counting method, gunakan Binary counting.

Apa maksudnya?

Bayangkan satu artikel menyebut istilah skill sebanyak sepuluh kali, sedangkan artikel lain menyebutnya dua kali. Dalam binary counting, masing-masing artikel tetap memberikan satu hitungan kemunculan bagi istilah tersebut.

Artinya, yang dihitung adalah keberadaan istilah dalam dokumen, bukan jumlah pengulangannya.

Selanjutnya, atur minimum number of occurrences of a term menjadi 5.

Dengan pengaturan tersebut, istilah yang muncul dalam setidaknya lima dokumen dapat memenuhi batas awal untuk dipertimbangkan dalam pemetaan.

Mengapa lima?

Karena kita ingin memperoleh peta yang cukup ringkas, tetapi masih menyisakan sejumlah istilah yang dapat dijelajahi. Tidak ada kewajiban menggunakan angka lima untuk semua penelitian. Pada kumpulan data yang jauh lebih besar, ambang kemunculan mungkin perlu ditingkatkan.

Sebelum menyelesaikan pemetaan, periksa daftar istilah yang akan dimasukkan. Kata yang terlalu umum, istilah yang tidak relevan, atau variasi penulisan dengan makna sama dapat mengganggu pembacaan. Bila diperlukan, lakukan pembersihan menggunakan fasilitas pemilihan istilah atau thesaurus file.

Setelah peta selesai dibuat, buka tab Overlay Visualization.

See also  Jenis Penelitian dalam Skripsi: Jangan Dipilih karena Terdengar Mudah

Di sinilah kita mulai membaca hubungan antaristilah.

3. Jangan langsung memilih node yang paling kuning

Pada contoh hasil pencarian creative writing, peta VOSviewer memperlihatkan sejumlah node seperti use, chatgpt, experience, skill, writer, research, practice, teacher, dan effect.

Setiap lingkaran menunjukkan sebuah istilah. Lingkaran itu disebut node. Garis yang menghubungkan node menunjukkan hubungan kemunculan bersama dalam kumpulan publikasi.

Ukuran node berkaitan dengan bobot istilah dalam pemetaan. Sementara itu, pada Overlay Visualization yang menggunakan tahun publikasi, warna menunjukkan rata-rata tahun terbit dokumen yang memuat istilah tersebut.

Pada peta contoh, warna bergerak dari biru menuju kuning, dengan skala sekitar 2023,8 hingga 2024,4.

Node berwarna biru cenderung berkaitan dengan publikasi yang lebih lama dalam data, sedangkan node kuning berhubungan dengan publikasi yang secara rata-rata lebih baru.

Coba perhatikan node use. Warnanya tampak paling kuning dibandingkan banyak node lain.

Apakah berarti use merupakan topik terbaik?

Belum tentu.

Use berarti penggunaan. Pertanyaannya, penggunaan apa?

Penggunaan ChatGPT? Penggunaan pengalaman dalam menulis? Penggunaan strategi pembelajaran? Atau penggunaan teknologi untuk mengembangkan keterampilan menulis?

Kata tersebut masih terlalu umum untuk menjadi calon topik penelitian.

Justru ketika kita melihat hubungannya dengan chatgpt, experience, dan skill, muncul beberapa kemungkinan yang lebih menarik.

Di sini kita mulai memahami bahwa memilih node bukan sekadar mencari lingkaran yang paling besar atau paling baru. Kita perlu membaca hubungan dan makna di balik istilah tersebut.

Warna kuning dapat menjadi petunjuk perkembangan penelitian, tetapi bukan jaminan bahwa topiknya paling penting, paling relevan, atau memiliki celah penelitian.

4. Membaca node dengan sudut pandang mahasiswa PGSD

Mari kita mulai dari hubungan chatgpt–experience–skill.

Jika dibaca tanpa konteks keilmuan tertentu, hubungan ini dapat mengarah pada penelitian tentang pengalaman menggunakan ChatGPT dan keterampilan menulis kreatif.

Namun, mahasiswa PGSD mempunyai orientasi penelitian yang lebih khusus, yaitu pendidikan dan pembelajaran di sekolah dasar.

Karena itu, kita perlu bertanya: bagaimana hubungan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam persoalan yang berkaitan dengan siswa SD?

Kita mungkin mempertimbangkan penggunaan ChatGPT oleh guru untuk membantu merancang aktivitas menulis kreatif. Kita juga dapat meneliti pengalaman siswa ketika mengikuti pembelajaran menulis yang menggunakan bahan ajar berbantuan AI.

Perlu dibedakan bahwa penggunaan ChatGPT oleh guru bukan hal yang sama dengan penggunaan langsung oleh anak. Pilihan tersebut memengaruhi subjek, aktivitas pembelajaran, dan pertimbangan etis penelitian.

Salah satu artikel dalam hasil penelusuran berjudul If ChatGPT can do it, where is my creativity? Generative AI boosts performance but diminishes experience in creative writing yang terbit pada 2025.

Judul itu menawarkan sebuah ketegangan: teknologi mungkin membantu menghasilkan tulisan, tetapi bagaimana dengan pengalaman kreatif penulisnya?

Kita tidak dapat menerima kesimpulan penelitian hanya berdasarkan judul. Namun, ketegangan tersebut cukup untuk memancing pertanyaan awal.

Misalnya, jika guru menggunakan ChatGPT untuk menyediakan ide cerita, apakah siswa tetap memperoleh kesempatan mengembangkan imajinasinya sendiri?

Pertanyaan tersebut belum membuktikan adanya masalah di sekolah dasar. Kita masih harus memeriksa penelitian yang relevan dan kondisi pembelajaran sebenarnya.

Sekarang coba arahkan perhatian pada node lain, yaitu experience.

5. Bagaimana kalau experience dijadikan titik awal?

Bayangkan siswa kelas V diminta menulis cerita pendek berdasarkan pengalaman pribadi.

Seorang siswa mengingat perjalanan bersama keluarganya. Siswa lain teringat pengalaman kehilangan barang kesayangan. Ada pula yang ingin menulis tentang pertengkaran dengan teman sebangku.

Mereka mempunyai pengalaman. Namun, pengalaman itu belum tentu langsung berubah menjadi cerita yang runtut.

Ada siswa yang mengetahui apa yang ingin disampaikan, tetapi kesulitan menentukan bagian pembuka. Ada yang mampu menceritakan peristiwa secara lisan, tetapi kebingungan ketika harus menuliskannya. Ada pula yang hanya membuat daftar kejadian tanpa mengembangkan tokoh atau konflik.

Dari situ, kita bisa mempertimbangkan topik:

Pemanfaatan Pengalaman Pribadi sebagai Sumber Ide dalam Pembelajaran Menulis Kreatif Siswa Sekolah Dasar.

See also  Bingung Pilih Jenis Penelitian? Mulai dari Masalah Skripsimu

Topik tersebut muncul dari pengembangan makna experience, bukan dari judul yang langsung diberikan VOSviewer.

Namun, ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Istilah experience dalam publikasi ilmiah tidak selalu berarti pengalaman hidup yang digunakan sebagai bahan menulis. Istilah itu bisa merujuk pada pengalaman menggunakan teknologi, pengalaman belajar, atau pengalaman seorang penulis ketika melakukan proses kreatif.

Jadi, jangan langsung menyatakan bahwa node experience membuktikan adanya penelitian tentang pengalaman pribadi siswa SD.

Kita perlu kembali ke artikel-artikel yang memuat konsep tersebut, lalu menelusuri istilah seperti personal experience, lived experience, narrative writing, atau experience-based writing.

Jika ternyata literatur yang kita temukan lebih banyak membahas pengalaman menggunakan ChatGPT, bukan pengalaman hidup sebagai sumber cerita, itu bukan berarti gagasan kita harus dibuang.

Artinya, kita perlu melakukan pencarian tambahan dengan kata kunci yang lebih tepat.

Di sini terjadi perubahan penting: semula kita membaca peta untuk menemukan istilah, sekarang kita mulai menilai konsep apa yang sebenarnya ingin diteliti.

6. Membaca kemungkinan dari node lainnya

Jangan hanya terpaku pada experience dan chatgpt. Peta yang sama juga menampilkan teacher, practice, development, writer, dan effect.

Bagi mahasiswa PGSD, istilah-istilah tersebut bisa membuka arah penelitian yang berbeda.

Perhatikan beberapa kemungkinan berikut.

Node atau hubunganKemungkinan arah topik PGSD
Experience – writerPemanfaatan pengalaman pribadi siswa dalam mengembangkan ide cerita
Experience – skillHubungan pengalaman belajar dengan keterampilan menulis kreatif siswa
ChatGPT – skillPenggunaan bahan pembelajaran berbantuan ChatGPT untuk mendukung keterampilan menulis siswa
Teacher – practicePraktik guru dalam membimbing pembelajaran menulis kreatif di SD
Practice – developmentPengembangan keterampilan menulis kreatif melalui latihan menulis bertahap
Effect – skillPengujian pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan menulis kreatif siswa

Semua kemungkinan tersebut merupakan hasil penafsiran awal, bukan temuan pasti dari peta.

Sebagai contoh, hubungan teacher–practice dapat membawa kita pada penelitian tentang bagaimana guru memberikan umpan balik terhadap tulisan siswa. Sementara practice–development mungkin mengarah pada kegiatan menulis berulang yang disertai revisi.

Kita juga bisa mengembangkan penelitian tentang peran pengalaman pribadi dalam pembelajaran menulis cerita pendek.

Menariknya, dalam data RIS yang kita kumpulkan memang terdapat publikasi mengenai pengajaran menulis kreatif di sekolah dasar, termasuk Teaching creative writing in primary schools: a systematic review of the literature through the lens of reflexivity dan A quasi-experimental study on the development of creative writing skills in primary school students.

Keberadaan artikel semacam ini memberi alasan untuk melanjutkan penelusuran dalam konteks pendidikan dasar. Namun, isi, metode, dan relevansinya tetap perlu diperiksa dari sumber lengkap.

Tidak semua node harus dipilih. Tujuan pemetaan adalah memperlihatkan sejumlah kemungkinan sehingga kita dapat menentukan mana yang layak ditelusuri lebih jauh.

7. Bagaimana menentukan node yang layak dijadikan calon topik?

Sampai di sini, mungkin kamu sudah menemukan beberapa istilah menarik. Masalahnya, mana yang sebaiknya dipilih?

Gunakan lima pertanyaan berikut untuk memeriksa calon topik.

Pertama, apakah konsepnya cukup jelas?

Kata use terlalu umum jika berdiri sendiri. Experience mulai memberi arah, tetapi masih mempunyai beberapa kemungkinan makna. Kita perlu memperjelas apa yang sebenarnya ingin dipelajari.

Kedua, apakah relevan dengan pembelajaran di SD?

Mahasiswa PGSD perlu menjelaskan hubungannya dengan pengalaman belajar, kemampuan, kegiatan pembelajaran, atau perkembangan siswa sekolah dasar.

Ketiga, apakah ada literatur yang mendukung?

Jangan hanya mengandalkan garis antarnode. Cari publikasi yang sesuai, baca abstrak, lalu periksa beberapa artikel lengkap untuk mengetahui bagaimana konsep itu diteliti.

Keempat, apakah penelitiannya memungkinkan dilakukan?

Pertimbangkan akses ke sekolah, kelas yang akan diteliti, kebutuhan data, waktu penelitian, dan karakteristik siswa.

Kelima, apakah persoalannya masih perlu digali?

Sebuah topik bisa menarik secara konseptual, tetapi kita belum tentu menemukan persoalan empiris yang jelas. Itu sebabnya penetapan topik awal tidak sama dengan penetapan masalah penelitian.

Setelah menjawab kelima pertanyaan tersebut, pilih dua atau tiga calon topik yang paling memungkinkan untuk ditelusuri.

Jangan terburu-buru menentukan judul final.

8. Gunakan ChatGPT untuk menguji kemungkinan topik

Setelah membaca peta, kita dapat menggunakan ChatGPT sebagai mitra berpikir.

Namun, cara bertanyanya perlu diperhatikan.

See also  Bagaimana Mahasiswa Mengecek Apakah Jenis Penelitiannya Sudah Cocok dengan Rumusan Masalah?

Jika kita hanya meminta, “Buatkan sepuluh judul skripsi PGSD yang menarik”, ChatGPT mungkin menghasilkan daftar judul yang terdengar meyakinkan. Masalahnya, judul tersebut belum tentu berkaitan dengan isi peta atau didukung penelitian terdahulu.

Lebih baik berikan informasi yang memang kita peroleh dari proses pemetaan.

Gunakan prompt berikut:

Saya mahasiswa PGSD yang sedang mencari calon topik skripsi dengan subjek utama siswa sekolah dasar.

Saya menelusuri publikasi melalui Publish or Perish menggunakan kata kunci “creative writing”, rentang tahun 2022–2026, dan memperoleh 110 rekaman.

Data tersebut saya petakan menggunakan VOSviewer dengan binary counting dan minimum occurrences 5. Pada Overlay Visualization terlihat node use, chatgpt, experience, skill, teacher, writer, practice, dan development.

Bantu saya mengembangkan lima kemungkinan calon topik penelitian yang relevan dengan pembelajaran siswa SD.

Untuk setiap calon topik, jelaskan konsep yang menjadi fokus, relevansinya dengan siswa SD, kemungkinan pertanyaan penelitian, kata kunci untuk penelusuran literatur lanjutan, serta hal-hal yang masih perlu diperiksa.

Bedakan dengan jelas antara informasi yang berasal dari peta dan kemungkinan yang merupakan hasil penafsiran. Jangan menganggap hubungan antarnode sebagai bukti sebab-akibat, research gap, atau novelty.

Utamakan topik yang memungkinkan diteliti oleh mahasiswa PGSD.

Hasil ChatGPT dapat membantu memperluas pilihan, tetapi jangan langsung menganggap seluruh sarannya benar.

Perhatikan apakah konsep yang ditawarkan benar-benar berhubungan dengan pembelajaran siswa SD. Kemudian, periksa kemungkinan tersebut melalui literatur.

Kamu juga dapat meminta ChatGPT membandingkan dua atau tiga calon topik berdasarkan kejelasan fokus, keterjangkauan data, serta kemungkinan pengembangannya menjadi penelitian.

Tetapi ingat, ChatGPT tidak menggantikan pekerjaan membaca penelitian.

9. Jangan menentukan judul sebelum memahami persoalannya

Dari pembacaan peta creative writing, kita mungkin memperoleh tiga calon topik berikut:

Calon topik pertama: Pemanfaatan pengalaman pribadi siswa sebagai sumber ide dalam pembelajaran menulis kreatif di sekolah dasar.

Calon topik kedua: Penggunaan bahan pembelajaran berbantuan ChatGPT untuk mendukung keterampilan menulis kreatif siswa SD.

Calon topik ketiga: Praktik guru dalam mengembangkan keterampilan menulis kreatif siswa melalui latihan menulis bertahap.

Ketiganya memiliki arah yang berbeda.

Topik pertama menaruh perhatian pada pengalaman siswa sebagai bahan menulis. Topik kedua berkaitan dengan teknologi dan aktivitas pembelajaran. Topik ketiga berpusat pada praktik pengajaran serta perkembangan keterampilan siswa.

Belum ada alasan untuk menyatakan salah satunya paling baik.

Kita juga belum mengetahui apakah siswa benar-benar mengalami kesulitan dalam menulis kreatif, apakah guru sudah menggunakan pengalaman pribadi sebagai bahan pembelajaran, atau apakah penggunaan ChatGPT relevan dalam praktik pembelajaran di sekolah yang akan diteliti.

Semua itu memerlukan penelusuran berikutnya.

Untuk sementara, simpan tiga calon topik tersebut bersama kata kunci yang mungkin digunakan. Simpan pula berkas RIS, peta VOSviewer, dan beberapa artikel yang dianggap relevan.

Kumpulan bahan ini akan membantu kita bergerak ke tahap berikutnya tanpa harus mengulang pencarian dari awal.

10. Sudah menemukan topik, lalu apa yang harus dilakukan?

Mari kembali pada calon topik pertama, yaitu pemanfaatan pengalaman pribadi siswa dalam pembelajaran menulis kreatif.

Kita sudah mempunyai gagasan. Kita juga melihat sejumlah istilah dan publikasi yang dapat dijadikan pintu masuk untuk memahami persoalan tersebut.

Namun, ada pertanyaan yang belum terjawab.

Apakah siswa sekolah dasar memang kesulitan mengembangkan pengalaman menjadi cerita? Apakah guru sudah menggunakan pengalaman pribadi sebagai sumber ide menulis? Bagaimana kondisi pembelajaran menulis kreatif yang berlangsung sekarang?

Jawabannya tidak tersedia hanya dengan melihat peta VOSviewer.

Untuk mengetahui hal tersebut, kita perlu mulai menelusuri fenomena sosial dan pendidikan, mencari fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, serta membandingkannya dengan penelitian yang relevan.

Itulah pekerjaan berikutnya dalam membangun latar belakang skripsi.

Untuk sekarang, kamu belum perlu mempunyai judul yang terdengar hebat. Cukup pilih calon topik yang jelas, relevan dengan pendidikan dasar, dan mempunyai alasan untuk ditelusuri lebih lanjut.

Di layar VOSviewer, garis antara experience, writer, dan practice mungkin sudah terlihat. Tetapi garis itu baru menunjukkan hubungan dalam publikasi.

Di sebuah kelas SD, seorang anak mungkin sedang menatap halaman kosong sambil mencoba mengingat pengalaman yang ingin diceritakannya.

Kita belum tahu apa yang membuatnya kesulitan menulis.

Dan mungkin justru di sanalah penelitian kita akan dimulai.


Referensi teknis:

Catatan sumber data: Contoh pemetaan menggunakan 110 rekaman hasil Publish or Perish dengan kata kunci creative writing, periode 2022–2026, diakses pada 30 Oktober 2026. Peta dibuat menggunakan VOSviewer dengan binary counting dan minimum occurrences 5. Interpretasi calon topik merupakan eksplorasi awal, bukan hasil pembuktian kesenjangan penelitian.