Mobil listrik itu berhenti beberapa meter sebelum tikungan. Di sebelah kiri ada tembok rumah, di sebelah kanan deretan motor yang diparkir terlalu dekat dengan badan jalan. Ruang tersisa cukup untuk satu mobil, tetapi cukup selalu menjadi kata yang berbahaya ketika spion hanya berjarak beberapa sentimeter dari tembok.
Pedal diinjak perlahan. Mobil bergerak hampir tanpa suara, hanya bunyi ban yang menggesek permukaan jalan dan dengung tipis dari sistem penggerak. Seorang pengendara motor muncul dari arah berlawanan, lalu berhenti. Keduanya saling menunggu. Tidak ada ruang untuk saling lewat dengan nyaman.
Di jalan besar, tenaga motor listrik terasa menyenangkan karena torsi tersedia sejak putaran awal. Arus dari baterai mengalir ke motor, medan elektromagnetik menghasilkan putaran, lalu roda menerima tenaga hampir tanpa jeda panjang. Di jalan sempit, sifat yang sama berubah watak. Sedikit tekanan pada pedal sudah cukup membuat badan mobil bergerak maju.

Karena itu kaki kanan mendadak punya pekerjaan yang lebih halus. Jarak beberapa sentimeter terasa lebih penting daripada kemampuan berakselerasi. Kamera, sensor ultrasonik, radar, atau sistem pandangan sekeliling mulai mengambil peran. Benda yang dibuat untuk bergerak cepat justru menunjukkan kecanggihannya ketika bergerak sangat lambat.
Ada ironi kecil di sana. Teknologi kendaraan berkembang untuk membuat perjalanan semakin mudah, tetapi ruas jalan sempit memaksa seluruh kecanggihan kembali tunduk pada ukuran tubuh mobil. Lebar tetap lebar. Panjang tetap panjang. Sensor bisa memberi peringatan, kamera bisa memperlihatkan sudut mati, namun tembok tetap berada di tempat yang sama.
Mobil maju sedikit lagi. Bunyi peringatan mulai muncul dari kabin. Garis panduan pada layar berubah warna ketika jarak mengecil. Pengemudi motor di depan menggeser kendaraan beberapa sentimeter ke sisi jalan. Ruang baru terbuka, kecil sekali, tetapi cukup untuk mencoba.
Pada keadaan seperti ini, teknologi terasa hampir seperti perpanjangan indera. Kamera melihat bagian yang sulit dijangkau mata. Sensor membaca jarak. Sistem penggerak listrik memberi tenaga dengan presisi yang memungkinkan mobil merayap pelan. Seluruh sistem bekerja untuk satu tujuan sederhana, melewati celah tanpa menyentuh apa pun.
Namun jalan sempit membawa persoalan yang lebih tua daripada motor listrik. Ruang selalu memancing keinginan untuk dikuasai. Sedikit ruang kosong segera dianggap bisa dipakai. Bahu jalan menjadi tempat parkir. Celah di antara dua kendaraan terasa seperti undangan. Beberapa sentimeter yang tersisa mulai dihitung sebagai hak untuk terus maju.
Di situlah ketegangan muncul. Mobil ingin lewat. Motor dari depan juga ingin lewat. Tembok tidak bergerak. Tiang listrik tidak memberi jalan. Jalan sempit mempertemukan banyak keinginan pada ukuran ruang yang tetap.
Hasrat untuk bergerak biasanya terasa sederhana. Tujuan sudah ada di depan, tinggal mencapai. Namun ruang yang sempit memperlihatkan sisi lain dari perjalanan. Bergerak selalu berarti mengambil sebagian ruang. Semakin besar kendaraan, semakin besar ruang yang harus dinegosiasikan.
Mobil listrik membawa lapisan tambahan karena suara yang rendah mengubah cara kehadiran terasa. Pada kecepatan rendah, beberapa model memakai bunyi peringatan buatan agar pejalan kaki lebih mudah menyadari kendaraan yang mendekat. Keheningan yang semula terasa nyaman bisa berubah menjadi persoalan ketika gang sempit dipenuhi orang, sepeda, anak kecil, atau kendaraan yang keluar dari halaman rumah.
Teknologi lalu harus menciptakan suara untuk kendaraan yang sejak awal dirancang agar lebih senyap. Jalan sempit seperti menemukan cara untuk membalik hampir setiap keunggulan menjadi pertanyaan baru.
Di tikungan berikutnya, sebuah mobil lain muncul dari arah berlawanan. Salah satu harus mundur. Kamera belakang menyala, sensor mulai berbunyi lagi, roda berputar perlahan menuju ruang yang baru saja dilewati. Beberapa meter perjalanan harus dikembalikan hanya agar dua kendaraan bisa bertukar posisi.
Ada yang percaya kendaraan yang terlalu sering melewati jalan sempit akan mulai mengenali sifat pemiliknya. Goresan kecil di velg dianggap lahir dari tergesa-gesa, spion yang lecet menyimpan terlalu banyak keberanian, sementara bodi yang tetap mulus disebut milik orang yang tahu kapan harus berhenti.
Kepercayaan semacam itu terasa masuk akal ketika jalan hanya menyisakan beberapa sentimeter. Setiap keputusan meninggalkan kemungkinan bekas. Sedikit terlalu cepat, cat bertemu tembok. Sedikit terlalu percaya diri, spion menyentuh kendaraan lain. Sedikit lebih sabar, seluruh situasi bisa selesai tanpa apa-apa.
Mobil akhirnya keluar dari gang dan kembali ke jalan yang lebih lebar. Pedal kembali terasa ringan, motor listrik mendapat ruang untuk mengubah arus menjadi gerak tanpa harus terus mengukur dinding di kiri dan kanan. Beberapa detik kemudian, ruas sempit tadi tinggal di belakang.
Bodi mobil tetap utuh. Spion masih pada tempatnya. Sensor kembali diam. Namun jalan kecil tadi sudah memperlihatkan sesuatu yang jarang terasa di jalan raya. Hasrat untuk maju selalu tampak mudah selama ruang masih cukup.