Si Tanggang: Pisang Salai yang Dibuang ke Laut

Di sebuah kampung yang terletak tidak jauh dari muara sungai, hiduplah sepasang suami istri bernama Si Talang dan Si Deruma. Mereka mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Tanggang.

Keluarga itu hidup dalam kemiskinan. Si Talang dan Si Deruma bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rumah mereka sederhana, sementara makanan yang tersedia bergantung pada hasil pekerjaan mereka.

Sejak kecil, Si Tanggang terbiasa melihat kesulitan yang dialami orang tuanya. Ia sering membayangkan kehidupan yang berbeda, dengan pakaian bagus, rumah besar, serta orang-orang yang menghormatinya.

Tanggang ingin menjadi kaya dan terkenal.

Keinginan tersebut semakin kuat ketika ia menyaksikan kapal-kapal besar melintas di sungai dekat kampungnya. Kapal-kapal itu membawa barang dagangan dan orang-orang yang datang dari berbagai tempat.

Suatu hari, sebuah kapal besar berlabuh di muara sungai.

Tanggang mendekatinya dan menemui nakhoda kapal. Ia meminta kesempatan untuk bekerja sebagai anak buah kapal dan ikut berlayar.

Nakhoda tersebut telah memperhatikan kecakapan Tanggang ketika mengayuh sampan dan melakukan pekerjaan di sekitar sungai. Ia melihat bahwa pemuda itu terampil dan rajin.

Permintaan Tanggang pun diterima.

Ketika pulang, Tanggang menyampaikan kabar tersebut kepada kedua orang tuanya.

Si Talang dan Si Deruma merasa berat melepas anak mereka pergi. Selama ini, mereka tinggal bersama dan saling membantu menjalani kehidupan sehari-hari. Kepergian Tanggang berarti mereka harus berpisah untuk waktu yang belum diketahui.

Namun, Tanggang telah menentukan pilihannya.

Ia berjanji akan pulang setelah berhasil menjadi orang kaya.

Akhirnya, kedua orang tuanya mengizinkan Tanggang berangkat.

Pada hari keberangkatan, Tanggang naik ke kapal dan meninggalkan kampung halamannya. Dari tepian sungai, Si Talang dan Si Deruma menyaksikan kapal tersebut bergerak menjauh.

Mereka berharap suatu hari anak mereka kembali dalam keadaan sehat dan berhasil mencapai cita-citanya.

Dari Anak Buah Kapal Menjadi Nakhoda

Di kapal, Tanggang bekerja dengan sungguh-sungguh.

Ia mengerjakan tugas yang diberikan nakhoda, mempelajari kehidupan pelayaran, serta membantu pekerjaan yang diperlukan selama perjalanan.

Ketekunannya membuat nakhoda semakin menyukainya.

Seiring waktu, hubungan mereka menjadi dekat. Nakhoda bahkan mengangkat Tanggang sebagai anak angkatnya.

Tanggang memperoleh semakin banyak kepercayaan. Ia mempelajari cara mengatur awak kapal, membawa barang dagangan, dan menjalankan perdagangan di berbagai tempat.

Ketika nakhoda mulai tua dan kesehatannya melemah, Tanggang mendapat tanggung jawab yang lebih besar.

Akhirnya, ia dipercaya memimpin kapal menggantikan ayah angkatnya.

Sejak saat itu, orang-orang memanggilnya Nakhoda Tanggang.

Tanggang ternyata pandai berdagang. Ia memahami barang-barang yang dibutuhkan di berbagai daerah dan mampu menjalankan pelayaran dengan baik.

Keberhasilannya membuat namanya semakin dikenal.

Kabar tentang Nakhoda Tanggang bahkan sampai ke istana. Sultan mengundangnya datang sebagai tamu.

Dalam lingkungan istana, Tanggang berkenalan dengan putri Sultan. Hubungan mereka berkembang hingga akhirnya keduanya menikah.

Tanggang kini memiliki kehidupan yang dahulu hanya dapat dibayangkannya.

Ia menjadi nakhoda terkenal, mempunyai kekayaan, dan menikah dengan seorang putri Sultan. Bersama istrinya, ia berlayar mengunjungi berbagai negeri.

Sementara itu, di kampung asalnya, Si Talang dan Si Deruma terus menjalani kehidupan sederhana.

Mereka semakin tua. Keadaan ekonomi keluarga juga tetap sulit.

Setiap kali mendengar kabar tentang kapal yang datang dari tempat jauh, mereka berharap memperoleh berita mengenai Tanggang.

Mereka masih mengingat janji anaknya untuk pulang setelah menjadi kaya.

Kapal yang Kembali ke Muara Sungai

Suatu hari, kapal Nakhoda Tanggang berlabuh di muara sungai dekat kampung kelahirannya.

Kedatangan kapal tersebut menarik perhatian penduduk.

Beberapa orang mengetahui bahwa nakhoda kapal itu adalah Si Tanggang, pemuda yang dahulu meninggalkan kampung untuk mencari pekerjaan.

Kabar tersebut segera sampai kepada Si Talang dan Si Deruma.

Keduanya sangat gembira.

Anak yang selama ini mereka nantikan akhirnya kembali sebagai nakhoda kaya dan terkenal.

Mereka segera bersiap menemui Tanggang.

Si Deruma teringat makanan yang sangat disukai anaknya ketika masih tinggal bersama mereka. Makanan itu adalah pisang salai, yaitu pisang yang dikeringkan melalui proses pengasapan.

Ia menyiapkan pisang salai untuk dibawa sebagai buah tangan.

Pisang salai merupakan makanan sederhana yang akrab dengan kehidupan keluarga mereka. Bagi Si Deruma, makanan itu juga mengingatkannya pada kebiasaan Tanggang ketika masih kecil.

Setelah semuanya siap, Si Talang dan Si Deruma menaiki sampan menuju kapal besar yang berlabuh di sungai.

Mereka mengayuh mendekati kapal dengan perasaan gembira.

Di hadapan mereka, kapal Nakhoda Tanggang tampak jauh lebih besar daripada sampan yang mereka gunakan.

Ketika sampai di sisi kapal, mereka berusaha naik untuk menemui anaknya.

Namun, seorang awak kapal menghentikan mereka.

See also  Malin Kundang: Bekas Luka yang Membongkar Kebohongan

Si Talang dan Si Deruma menjelaskan bahwa mereka adalah orang tua Nakhoda Tanggang.

Awak kapal kemudian menyampaikan kedatangan mereka kepada nakhoda.

Pisang Salai untuk Si Tanggang

Tidak lama kemudian, Tanggang muncul bersama istrinya.

Dari atas kapal, ia melihat sepasang orang tua berpakaian sederhana yang berdiri di sampan.

Tubuh keduanya tampak lemah dimakan usia. Kehidupan yang sulit telah meninggalkan bekas pada penampilan mereka.

Tanggang menanyakan identitas kedua orang itu kepada awak kapal.

Awak kapal menjelaskan bahwa mereka mengaku sebagai ayah dan ibu sang nakhoda.

Mendengar jawaban tersebut, istri Tanggang ikut bertanya apakah kedua orang tua itu benar-benar keluarganya.

Tanggang memperhatikan Si Talang dan Si Deruma.

Ia mengenali orang tuanya, tetapi merasa malu melihat penampilan mereka yang miskin dan sederhana.

Tanggang telah menjadi orang kaya dan menikahi putri Sultan. Di hadapan istrinya serta para awak kapal, ia ingin mempertahankan kehormatan yang selama ini diperolehnya.

Ia kemudian menyangkal bahwa kedua orang tersebut adalah ayah dan ibunya.

Dengan suara keras, Tanggang mengatakan bahwa ia sudah tidak mempunyai orang tua. Ia juga memerintahkan awak kapal agar kedua orang tua itu dilarang naik.

Si Deruma terkejut mendengar perkataan anaknya.

Ia berusaha memanggil Tanggang dan meyakinkannya bahwa ia adalah ibu yang telah membesarkannya.

Kemudian, Si Deruma memperlihatkan pisang salai yang dibawanya.

Ia mengatakan bahwa makanan tersebut adalah kesukaan Tanggang sejak kecil.

Si Deruma berharap anaknya mengingat kembali kehidupan mereka dahulu.

Namun, Tanggang semakin marah.

Ia mengusir kedua orang tuanya dari kapal.

Ketika Si Deruma berpegangan pada tepi kapal, Tanggang memukul jari-jari ibunya agar melepaskan pegangan.

Pisang salai yang dibawa Si Deruma kemudian dibuang ke laut.

Makanan yang telah disiapkan dengan penuh harapan itu jatuh ke air.

Si Talang dan Si Deruma sangat sedih. Mereka datang untuk menyambut kepulangan anaknya, tetapi pertemuan tersebut berakhir dengan penghinaan.

Keduanya kembali menaiki sampan dan mendayung menuju daratan.

Tanggang tetap berada di atas kapal bersama istrinya.

Badai di Muara Sungai

Setelah sampai di darat, Si Deruma memandang ke arah kapal tempat anaknya berada.

Ia sangat kecewa dengan perlakuan Tanggang.

Selama bertahun-tahun, ia dan suaminya menunggu kepulangan anak mereka. Kini Tanggang telah berhasil menjadi orang kaya, tetapi justru menolak mengakui keduanya sebagai orang tua.

Dalam kesedihannya, Si Deruma mengangkat kedua tangan dan berdoa kepada Tuhan.

Ia memohon agar Tuhan memperlihatkan kepada Tanggang bahwa dirinya adalah ibu kandung yang telah melahirkannya.

Tidak lama setelah doa itu terucap, langit berubah gelap.

Petir menggelegar dan angin bertiup semakin kencang. Air sungai yang sebelumnya tenang mulai bergelombang.

Kapal Nakhoda Tanggang berguncang diterpa badai.

Para awak kapal berusaha menjaga keseimbangan dan menyelamatkan kapal. Namun, angin serta gelombang semakin kuat.

Di tengah keadaan tersebut, Tanggang mulai menyadari kesalahannya.

Ia teringat kedua orang tua yang baru saja diusirnya.

Tanggang memahami bahwa badai tersebut berkaitan dengan doa ibunya.

Dengan penuh penyesalan, ia berteriak memanggil Si Deruma.

Ia mengakui bahwa perempuan itu adalah ibunya dan memohon ampun atas perbuatannya.

Namun, badai terus mengamuk.

Gelombang besar menghantam kapal hingga tubuh kapal pecah.

Menurut legenda, kapal Nakhoda Tanggang kemudian berubah menjadi batu. Tanggang, istrinya, dan seluruh awak kapal juga mengalami nasib yang sama.

Kisah Si Tanggang pun diwariskan sebagai cerita rakyat Malaysia tentang seorang anak yang berhasil memperoleh kekayaan, tetapi menyakiti kedua orang tua yang telah membesarkannya.

Pisang Salai dan Ingatan yang Dibawa Seorang Ibu

Ada satu benda sederhana yang menarik diperhatikan dalam cerita Si Tanggang.

Ketika mendengar anaknya pulang, Si Deruma segera bersiap mendatanginya. Ia membawa pisang salai, makanan yang dahulu disukai Tanggang.

Makanan tersebut muncul pada saat penting dalam cerita.

Si Tanggang telah menjadi nakhoda kaya dan menikah dengan putri Sultan. Kapal besar, perdagangan, dan kehidupan istana menunjukkan perubahan yang dialaminya selama merantau.

Sementara itu, Si Deruma masih mengingat makanan kesukaan anaknya.

Pisang salai menghubungkan kehidupan Tanggang ketika kecil dengan kehidupannya setelah dewasa.

Bagi Si Deruma, makanan itu merupakan sesuatu yang akrab. Ia mengenal kesukaan anaknya karena pernah hidup bersama dan merawatnya.

Bagi Tanggang, kedatangan pisang salai justru mempertemukannya kembali dengan asal-usul yang membuatnya merasa malu.

Cerita memperlihatkan perbedaan sikap kedua tokoh melalui benda yang sama.

Si Deruma membawa pisang salai sebagai tanda perhatian. Tanggang membuangnya ke laut ketika mengusir ibunya.

Tindakan tersebut membantu pembaca memahami konflik melalui sesuatu yang dapat dilihat dan dibayangkan.

See also  Cara Mengajar Kosakata dengan Cerita Pendek: Dragon in the Hall

Kita dapat memperhatikan bagaimana cerita menggunakan benda untuk menunjukkan hubungan antartokoh. Pisang salai mempunyai fungsi lebih luas daripada makanan yang dibawa ketika berkunjung.

Benda itu menyimpan ingatan tentang masa kecil, memperlihatkan perhatian seorang ibu, dan menjadi bagian dari peristiwa ketika hubungan keluarga mereka mengalami keretakan.

Dalam pembelajaran literasi, detail semacam ini dapat digunakan untuk melatih kemampuan menemukan informasi, menghubungkan peristiwa, dan menyimpulkan perasaan tokoh berdasarkan tindakannya.

Mengenal Kosakata Melalui Cerita

Beberapa kata dalam cerita Si Tanggang dapat dipelajari melalui konteks peristiwa yang dialami tokohnya.

Muara

Kapal yang membawa Tanggang berlabuh di muara sungai dekat kampungnya. Muara adalah tempat berakhirnya aliran sungai ketika bertemu laut, danau, atau sungai lain.

Nakhoda

Tanggang mula-mula bekerja sebagai anak buah kapal. Setelah memperoleh kepercayaan dan kemampuan memimpin pelayaran, ia menjadi nakhoda. Kata ini berarti pemimpin atau kapten kapal.

Berlabuh

Kapal Nakhoda Tanggang berhenti di muara sungai. Kata berlabuh menggambarkan keadaan kapal yang berhenti dan menetap sementara di suatu tempat perairan.

Uzur

Si Talang dan Si Deruma telah menjadi tua dan kondisi tubuh mereka semakin lemah. Kata uzur dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang lemah karena usia atau kondisi kesehatan.

Pisang salai

Si Deruma membawa pisang salai ketika mengunjungi anaknya. Pisang salai merupakan makanan dari buah pisang yang diawetkan melalui proses pengasapan atau pengeringan dengan asap.

Menyangkal

Ketika Tanggang mengatakan bahwa Si Talang dan Si Deruma bukan orang tuanya, ia sedang menyangkal hubungan keluarga mereka. Menyangkal berarti membantah atau menolak suatu pernyataan.

Terombang-ambing

Saat badai datang, kapal Tanggang berguncang akibat angin dan gelombang. Kata terombang-ambing menggambarkan keadaan bergerak tidak menentu, terutama karena pengaruh air atau angin.

Menyesal

Setelah badai datang, Tanggang menyadari kesalahannya dan memohon ampun kepada ibunya. Perasaan sedih atau kecewa atas perbuatan yang telah dilakukan disebut penyesalan.

Melalui cerita, pembaca memperoleh kesempatan memahami arti kata sekaligus melihat cara penggunaannya dalam kalimat.

Kegiatan 1: Membaca dan Menemukan Petunjuk

Kegiatan ini melatih kemampuan membaca pemahaman melalui informasi yang tersebar di beberapa bagian cerita.

Bacalah kembali bagian keberangkatan Tanggang, kepulangannya, dan pertemuannya dengan kedua orang tuanya.

Kemudian, jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apa cita-cita Si Tanggang ketika masih tinggal bersama orang tuanya?
  2. Mengapa nakhoda kapal bersedia menerima Tanggang sebagai anak buah kapal?
  3. Bagaimana Tanggang akhirnya dipercaya menjadi nakhoda?
  4. Apa yang dibawa Si Deruma ketika hendak menemui anaknya?
  5. Mengapa Si Deruma memilih membawa pisang salai?
  6. Apa tindakan Tanggang terhadap makanan tersebut?
  7. Bagaimana tindakan itu membantu pembaca memahami sikap Tanggang terhadap orang tuanya?

Pertanyaan pertama hingga keenam membantu pembaca menemukan informasi serta menghubungkan bagian cerita.

Pertanyaan ketujuh mengajak pembaca membuat kesimpulan berdasarkan tindakan tokoh.

Guru dapat meminta siswa menunjukkan kalimat atau peristiwa yang mendukung jawaban mereka.

Dengan demikian, kegiatan membaca berkembang menjadi latihan memahami hubungan antara informasi dan makna.

Kegiatan 2: Menceritakan Kembali dari Sudut Pandang Tokoh

Ketika Si Talang dan Si Deruma mendatangi kapal, setiap tokoh mengalami peristiwa tersebut dengan cara berbeda.

Si Deruma datang dengan rasa rindu dan membawa makanan kesukaan anaknya.

Si Tanggang merasa malu melihat keadaan kedua orang tuanya.

Istri Tanggang melihat dua orang tua yang mengaku sebagai keluarga suaminya.

Perbedaan pengalaman tersebut dapat digunakan untuk melatih kemampuan berbicara.

Mintalah siswa memilih salah satu tokoh, kemudian menceritakan kembali peristiwa di kapal menggunakan sudut pandang tokoh tersebut.

Sebagai contoh, siswa yang memilih Si Deruma dapat memulai ceritanya dengan kalimat berikut.

“Aku sangat gembira ketika mendengar Tanggang pulang. Aku segera menyiapkan pisang salai karena sejak kecil ia menyukai makanan itu.”

Siswa dapat melanjutkan cerita dengan menjelaskan peristiwa yang dialami, perasaan tokoh, dan tindakan yang dilakukan.

Setelah bercerita, peserta lain dapat mengajukan pertanyaan tentang alasan tokoh bertindak.

Melalui kegiatan ini, siswa belajar menyusun cerita secara lisan, menggunakan kata ganti orang pertama, dan memahami bagaimana sudut pandang memengaruhi penyampaian peristiwa.

Kegiatan 3: Mengubah Kata, Mengamati Makna

Bahasa memiliki banyak pilihan kata untuk menggambarkan tindakan.

Perhatikan kalimat berikut.

  • Si Deruma membawa pisang salai.
  • Si Deruma menyiapkan pisang salai.
  • Si Deruma mempersembahkan pisang salai kepada anaknya.

Ketiga kalimat tersebut berhubungan dengan benda yang sama, tetapi menekankan tindakan berbeda.

Kata membawa menunjukkan perpindahan benda bersama seseorang.

Kata menyiapkan menunjukkan tindakan mempersiapkan sesuatu sebelum digunakan atau diberikan.

Kata mempersembahkan menekankan tindakan memberikan sesuatu dengan maksud menghormati atau menunjukkan penghargaan.

Sekarang, perhatikan tiga kalimat lain.

  • Tanggang melihat kedua orang tuanya.
  • Tanggang mengenali kedua orang tuanya.
  • Tanggang menyangkal kedua orang tuanya.
See also  Cara Mengajar Kosakata dengan Cerita Pendek: Dragon in the Hall

Ketiga kata kerja tersebut membuat pembaca memahami tahapan tindakan yang berbeda.

Mintalah siswa memilih dua kalimat dari cerita, kemudian mengganti kata kerjanya dengan pilihan lain yang sesuai.

Diskusikan perubahan makna yang muncul.

Kegiatan ini membantu pembaca memahami bahwa pemilihan kata memengaruhi informasi, suasana, dan gambaran tindakan dalam sebuah cerita.

Kegiatan 4: Menulis Cerita melalui Sebuah Benda

Pisang salai mempunyai peran penting dalam pertemuan Si Tanggang dan ibunya.

Sekarang, ajak siswa membayangkan cerita lain yang menggunakan sebuah benda sebagai penghubung antara dua peristiwa.

Mereka dapat memilih benda sederhana seperti saputangan, buku tulis, cangkir, mainan lama, atau kotak makanan.

Mintalah siswa menulis cerita pendek dengan empat bagian.

  1. Perkenalan benda. Ceritakan siapa pemiliknya dan bagaimana benda tersebut digunakan.
  2. Peristiwa pertama. Tunjukkan kejadian yang membuat benda tersebut penting bagi seorang tokoh.
  3. Perubahan keadaan. Ceritakan sesuatu yang berubah dalam kehidupan tokoh.
  4. Kemunculan kembali. Hadirkan benda tersebut pada bagian akhir dengan fungsi atau makna yang berkaitan dengan peristiwa sebelumnya.

Sebagai contoh, sebuah kotak pensil diberikan seorang kakak kepada adiknya sebelum mereka berpisah karena harus tinggal di kota berbeda.

Bertahun-tahun kemudian, kotak pensil itu ditemukan kembali ketika keduanya bertemu.

Cerita dapat dikembangkan melalui peristiwa yang dipilih siswa sendiri.

Setelah selesai menulis, mintalah siswa menandai kalimat yang pertama kali memperkenalkan benda dan kalimat ketika benda tersebut muncul kembali.

Kegiatan ini melatih kemampuan membangun alur, menghubungkan peristiwa, dan menggunakan detail untuk memperjelas cerita.

Kegiatan 5: Membandingkan Si Tanggang dan Malin Kundang

Pembaca yang sudah mengenal legenda Malin Kundang dapat melakukan kegiatan lanjutan dengan membandingkan kedua cerita.

Keduanya mengisahkan anak yang meninggalkan kampung halaman, memperoleh kekayaan, kemudian menolak mengakui orang tua ketika kembali.

Namun, setiap cerita memiliki rincian peristiwa yang khas.

Dalam legenda Malin Kundang versi yang telah kita baca, seorang ibu mengenali anaknya melalui bekas luka yang muncul sejak masa kecil.

Dalam cerita Si Tanggang, Si Deruma membawa pisang salai sebagai makanan kesukaan anaknya. Tanggang kemudian membuang makanan tersebut ketika mengusir kedua orang tuanya.

Perbedaan ini dapat menjadi bahan latihan membandingkan teks.

Siswa dapat membuat tabel dengan unsur tokoh, latar, benda penting, konflik, dan akhir cerita.

Setelah itu, mintalah mereka menjelaskan persamaan serta perbedaan kedua cerita menggunakan kalimat lengkap.

Sebagai panduan, gunakan pertanyaan berikut.

  1. Apa persamaan cita-cita Malin Kundang dan Si Tanggang ketika muda?
  2. Bagaimana kedua tokoh memperoleh kekayaan?
  3. Benda atau tanda apa yang penting dalam pertemuan mereka dengan orang tua?
  4. Apa perbedaan tindakan orang tua dalam kedua cerita?
  5. Bagaimana kedua legenda menggambarkan akibat dari tindakan tokoh utama?

Kegiatan membandingkan cerita membantu siswa mengembangkan kemampuan mengelompokkan informasi, mengenali pola, dan menyusun penjelasan berdasarkan dua sumber bacaan.

Pembaca juga belajar bahwa cerita rakyat dari tempat berbeda dapat memiliki pola yang mirip sekaligus menyimpan kekhasan masing-masing.

Membaca Kembali Pisang Salai

Cerita Si Tanggang memperlihatkan perjalanan seorang anak yang berhasil menjadi nakhoda, membangun kekayaan, dan memperoleh kedudukan tinggi.

Perjalanan tersebut diikuti oleh peristiwa kepulangannya ke kampung halaman.

Dalam kegiatan literasi, pembaca dapat menelusuri bagaimana rangkaian peristiwa tersebut dibangun melalui tindakan, dialog, dan benda-benda yang muncul dalam cerita.

Pisang salai menjadi salah satu detail yang penting untuk diamati.

Pada awal pertemuan, Si Deruma membawanya sebagai makanan kesukaan anak yang telah lama pergi. Ketika Tanggang menyangkal kedua orang tuanya, makanan itu dibuang ke laut.

Melalui satu benda, pembaca dapat memperhatikan hubungan antara ingatan, perhatian, dan perubahan sikap tokoh.

Detail seperti ini juga dapat ditemukan dalam cerita lainnya. Sebuah benda yang semula tampak sederhana mungkin memperoleh makna baru setelah pembaca mengetahui perjalanan tokoh.

Di akhir kisah, Tanggang berteriak mengakui ibunya ketika badai menghantam kapal.

Pengakuan itu muncul setelah ia membuang pisang salai yang dibawa Si Deruma.

Makanan tersebut telah jatuh ke laut, sementara kapal besar Tanggang masih berguncang diterjang gelombang.


Sumber cerita: Penceritaan ulang orisinal berdasarkan cerita rakyat Malaysia Si Tanggang, versi yang diusahakan oleh Nurul Atiqah dan Nurul Sofea, 1 Siber 2007, diterbitkan di blog Cerita Rakyat Malaysia pada 23 September 2007.

https://ceritarakyatmalaysia.blogspot.com/2007/09/si-tanggang.html

Bagian kosakata, pembacaan detail cerita, dan kegiatan literasi merupakan pengembangan editorial untuk pembelajaran membaca, berbicara, dan menulis. Kegiatan dapat disesuaikan dengan jenjang serta kemampuan peserta didik.