Mengubah pengalaman menjadi ide, cerita, tokoh, dan karya kreatif.
Yabui tiba di Stasiun Depok Baru menjelang pukul delapan malam. Hujan sudah berhenti, tetapi air masih menetes dari ujung atap peron. Lantai licin memantulkan cahaya lampu, membuat langkah para penumpang tampak seperti bayangan yang bergerak di permukaan kaca. Kereta datang dan pergi dalam jeda pendek. Pintu terbuka, orang-orang turun, lalu arus tubuh berpindah menuju tangga dan pintu keluar. Di dekat tiang nomor tiga, seorang anak perempuan berdiri sambil memegang map plastik biru. Usianya sekitar dua belas tahun. Rambutnya dikuncir rendah, seragam sekolahnya tertutup jaket tipis, dan kedua sepatunya tampak basah. Setiap kali kereta berhenti, ia maju beberapa langkah, memperhatikan pintu-pintu…
Yabui tiba di Stasiun Depok menjelang petang, ketika langit menggantung rendah di atas atap peron dan udara menyimpan bau hujan yang belum jatuh. Kereta dari arah Jakarta baru saja membuka pintu. Penumpang tumpah ke peron, berjalan cepat menuju tangga dan pintu keluar. Sebagian menunduk menatap layar ponsel. Sebagian lain saling mendahului sambil merapatkan tas ke dada. Di tengah arus itu, seorang anak laki-laki tetap duduk di ujung bangku. Usianya kira-kira sebelas tahun. Seragam sekolahnya sudah kusut. Sebuah buku tulis terbuka di atas paha, sementara tangan kanannya bergerak cepat menorehkan kalimat. Anak itu tidak terlihat sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Ia beberapa…
Nisa datang bersama ibunya dengan sepeda motor. Mereka berhenti di depan kedai kecil tidak jauh dari Stasiun Citayam. Ibunya memarkir motor di bawah pohon, lalu duduk di meja sebelah sambil memeriksa pesan di telepon. Nisa membawa buku gambar tipis berwarna biru. “Katanya kamu menulis cerita dari perjalanan pulang,” kata Yabui. Nisa mengangguk. Ia membuka halaman tengah. Gambar pertama memperlihatkan jalan sempit selepas hujan. Ada pagar rumah, saluran air, tiang listrik, dan sepasang sepatu putih di tepi jalan. Tidak ada orang di dekatnya. “Ini sepatu siapa?” “Enggak tahu.” “Pernah lihat langsung?” Nisa kembali mengangguk. “Di mana?” “Dekat jalan belakang stasiun.” “Ditinggal…
Payung itu diletakkan Rara di atas meja. Warnanya hitam. Ukurannya kecil, jenis payung lipat yang biasa dimasukkan ke dalam tas. Tali pengikatnya sudah kusam, sedangkan gagangnya memiliki retakan tipis di bagian tengah. “Punya kamu?” tanya Yabui. Rara menggeleng. Mereka duduk di warung dekat pintu masuk Stasiun Bojong Gede. Dari tempat itu, suara pengumuman kereta masih terdengar, bercampur dengan klakson angkot dan suara pedagang yang sedang membereskan dagangan. “Punya siapa?” “Enggak tahu.” “Terus kenapa kamu bawa?” “Tadi ada di kursi.” Rara menunjuk bangku plastik di sebelah warung. Ia menemukan payung itu ketika datang bersama ibunya. Karena khawatir tertinggal, ia membawanya ke…
Nara menunjukkan gambar rumah itu tanpa banyak penjelasan. Atapnya miring. Cat temboknya putih kusam. Ada dua jendela di depan dan satu pohon pisang di sisi kanan. Di antara kedua jendela itu, sebuah pintu digambar dengan pensil hitam sampai nyaris menembus kertas. “Rumah siapa?” tanya Yabui. Nara menggeleng. Mereka duduk di teras tempat les yang hanya berjarak beberapa gang dari Stasiun Cilebut. Sore baru selesai diguyur hujan. Air masih menetes dari talang, sedangkan dari kejauhan terdengar suara kereta melintas. “Aku lihat dari kereta,” kata Nara. “Di mana?” “Enggak tahu.” “Dekat Cilebut?” “Awalnya.” Yabui mengamati gambar itu lagi. “Awalnya?” Nara membuka buku…
Saka menggambar sebuah pintu. Dua garis tegak. Satu garis mendatar di atasnya. Di depan pintu itu berdiri seorang anak kecil dengan tas sekolah. Di belakang anak tersebut, Saka menggambar satu bayangan panjang. Yabui mengamati gambar itu cukup lama. “Bayangan siapa?” Saka tidak langsung menjawab. Ia masih menekan ujung pensil pada kertas, mempergelap bagian kaki anak itu. Mereka duduk di sebuah kedai roti tidak jauh dari Stasiun Bogor. Dari jendela, gerbang masuk stasiun terlihat dipenuhi payung. Hujan turun sejak sore, membuat jalanan berkilat oleh lampu kendaraan dan papan iklan. “Bayangannya punya anak itu?” tanya Yabui lagi. “Bukan.” “Punya siapa?” “Orang yang…
Malam setelah hujan selalu meninggalkan rasa yang aneh di stasiun. Lantainya basah, lampu-lampunya tampak lebih buram, dan suara langkah orang terdengar lebih jelas daripada biasanya. Di Stasiun Cawang, malam itu, suasana terasa lebih lengang. Tidak benar-benar kosong, tetapi juga tidak cukup ramai untuk membuat seseorang merasa aman. Beberapa penumpang duduk berjauhan di bangku peron. Ada yang menunduk menatap ponsel. Ada yang menyandarkan kepala ke tiang. Ada pula yang berdiri dekat garis kuning, menunggu kereta terakhir dengan wajah lelah. Semua tampak seperti orang-orang kota pada umumnya: ingin cepat pulang, ingin cepat sampai, ingin segera berhenti berpikir. Dimas termasuk salah satunya. Jaket…
Malam itu, kostum Robot Kuning dibawa masuk ke rumah. Dr. Yabui menggantungnya di belakang pintu ruang kerja. Helm diletakkan di atas meja. Bagian badan digantung dengan kedua tangan menjuntai ke bawah. Birka beberapa kali melewati ruangan itu. Setiap kali lewat, ia berhenti. Lingkaran di dada robot sudah tidak menyala. Ayah telah membuka bagian belakangnya, memeriksa kabel, meraba lapisan kain, lalu menunjukkan tempat baterai yang masih kosong. “Tidak ada apa-apa,” kata Ayah. Birka berdiri di samping meja. “Tadi ada.” “Iya.” “Kenapa sekarang tidak ada?” Dr. Yabui belum menjawab. Ia sedang memegang obeng kecil dan sepotong kabel berwarna merah. Kabel itu belum…
“Ayah bikin apa?” Birka berdiri di depan pintu Taman Baca Berehan dengan kedua tangan memegang kusen. Separuh tubuhnya masih berada di luar. Separuh lagi sudah masuk, tetapi matanya lebih dulu menemukan sesuatu yang tergeletak di atas tikar. Warnanya kuning. Ada kepala besar dengan dua telinga pendek. Ada badan dengan lingkaran di bagian dada. Ada tangan dan kaki yang tampak terlalu kaku untuk dipakai berlari. Robot Kuning Dr. Yabui sedang berjongkok di sampingnya. Ia memegang gulungan benang dan sebuah gunting kecil. “Ini Robot Kuning,” kata Ayah. Birka mendekat. “Robot siapa?” “Robot IPOP.” “IPOP siapa?” Ayah belum menjawab. Ia masih mencoba memasang…
Di belakang Pasar Enjo, masuk ke arah Prumpung, ada satu gang sempit yang tidak pernah benar-benar kering. Orang-orang menyebutnya Gang Mayong. Nama itu tertulis kecil di papan kusam dekat mulut jalan, setengah tertutup kabel listrik dan spanduk tambal ban yang sudah pudar. Dari luar, gang itu tampak seperti celah di antara bangunan tua: sempit, lembap, dan selalu menyimpan bau yang tidak sepenuhnya bisa ditebak. Sejak subuh, udara di sana dipenuhi bau kedelai rebus, ampas basah, asap tungku, dan got mampat. Dari arah Pasar Enjo, suara pedagang sayur, tukang ayam, motor pengangkut barang, dan klakson angkot kadang terbawa masuk sampai ke…