Bingung Pilih Jenis Penelitian? Mulai dari Masalah Skripsimu

  • Post author:
  • Post category:Riset
  • Reading time:9 mins read

Banyak mahasiswa merasa bingung ketika diminta menentukan jenis penelitian untuk skripsi. Istilah seperti kualitatif, kuantitatif, deskriptif, penelitian tindakan kelas, dan penelitian pengembangan mungkin sudah sering terdengar. Namun, ketika harus memilih salah satu untuk proposal sendiri, pertanyaannya menjadi lebih rumit: penelitian saya sebenarnya cocok menggunakan jenis yang mana?

Kebingungan itu wajar. Jenis penelitian memang bukan sekadar nama yang dipilih dari daftar. Setiap jenis penelitian memiliki cara kerja, kebutuhan data, dan konsekuensi yang berbeda. Karena itu, sebelum memilih jenis penelitian, mahasiswa perlu kembali pada pertanyaan yang lebih dasar: masalah apa yang sebenarnya ingin dijawab?

mengenal alur penelitian skripsi

Di sinilah proses berpikir penelitian mulai terbentuk. Skripsi tidak berangkat dari keinginan memakai metode tertentu, tetapi dari masalah yang ingin dipahami, digambarkan, diuji, diperbaiki, atau dikembangkan. Ketika masalahnya mulai jelas, jenis penelitian biasanya ikut terlihat lebih terang.

Topik Belum Sama dengan Masalah Penelitian

Pada tahap awal, banyak mahasiswa sudah memiliki topik. Ada yang tertarik pada minat baca siswa sekolah dasar, pembelajaran tari tradisional, kemampuan menulis cerpen, media pembelajaran digital, atau sistem informasi sekolah. Topik-topik itu dapat menjadi pintu masuk yang baik. Namun, topik masih terlalu luas untuk langsung menentukan jenis penelitian.

Topik adalah wilayah umum yang ingin diteliti. Sementara itu, masalah penelitian adalah sisi khusus dari topik yang ingin dijawab melalui penelitian. Masalah penelitian biasanya muncul karena ada keadaan yang perlu dijelaskan, pengalaman yang perlu dipahami, perubahan yang perlu diuji, praktik yang perlu diperbaiki, atau kebutuhan yang perlu dikembangkan menjadi produk.

Misalnya, topiknya adalah minat baca siswa sekolah dasar. Dari topik ini, masalah penelitian dapat bergerak ke beberapa arah. Penelitian dapat diarahkan untuk menggambarkan tingkat minat baca siswa. Penelitian juga dapat diarahkan untuk memahami pengalaman siswa ketika membaca cerita digital. Dalam situasi lain, penelitian dapat diarahkan untuk meningkatkan minat baca melalui strategi pembelajaran tertentu. Bahkan, penelitian dapat diarahkan untuk mengembangkan media cerita digital yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Dari satu topik yang sama, jenis penelitian bisa berbeda. Perbedaannya terletak pada masalah yang dirumuskan.

Rumusan Masalah sebagai Petunjuk Awal

Rumusan masalah memberi petunjuk tentang arah penelitian. Dari rumusan masalah, mahasiswa dapat melihat apakah penelitian lebih dekat dengan upaya menggambarkan, memahami, menguji, memperbaiki, atau mengembangkan sesuatu.

Perhatikan beberapa kemungkinan berikut.

Jika rumusan masalahnya adalah “bagaimana tingkat minat baca siswa kelas IV sekolah dasar?”, maka penelitian diarahkan untuk menggambarkan kondisi. Jenis penelitian yang mungkin sesuai adalah penelitian deskriptif.

Jika rumusan masalahnya adalah “bagaimana pengalaman siswa kelas IV dalam membaca cerita digital?”, maka penelitian diarahkan untuk memahami pengalaman. Jenis penelitian yang mungkin sesuai adalah penelitian kualitatif.

Jika rumusan masalahnya adalah “apakah penggunaan media cerita digital berpengaruh terhadap minat baca siswa?”, maka penelitian diarahkan untuk menguji pengaruh. Jenis penelitian yang mungkin sesuai adalah penelitian kuantitatif.

Jika rumusan masalahnya adalah “bagaimana penerapan media cerita digital dapat meningkatkan minat baca siswa?”, maka penelitian diarahkan pada perbaikan proses pembelajaran. Penelitian tindakan kelas dapat dipertimbangkan.

Jika rumusan masalahnya adalah “bagaimana mengembangkan media cerita digital yang layak digunakan dalam pembelajaran membaca?”, maka penelitian diarahkan pada pengembangan produk. Jenis penelitian yang mungkin sesuai adalah penelitian pengembangan.

Yang menarik bukan hanya kata tanya yang digunakan, tetapi arah kerja di balik rumusan masalah itu. Kata “bagaimana” dapat muncul dalam berbagai jenis penelitian. “Bagaimana tingkat” berbeda dengan “bagaimana pengalaman”. “Bagaimana penerapan” berbeda dengan “bagaimana mengembangkan”. Karena itu, rumusan masalah perlu dibaca dari maksud penelitiannya, bukan hanya dari kata pertamanya.

Tujuan Penelitian Menjelaskan Kerja Utama Penelitian

Setelah rumusan masalah terbaca, langkah berikutnya adalah melihat tujuan penelitian. Tujuan penelitian menunjukkan kerja utama yang akan dilakukan dalam skripsi.

Jika tujuan penelitian adalah menggambarkan keadaan, maka penelitian cenderung mengarah pada penelitian deskriptif. Contohnya menggambarkan kemampuan membaca permulaan siswa, menggambarkan bentuk kesalahan berbahasa dalam karangan, atau menggambarkan kebutuhan pengguna terhadap sistem informasi sekolah.

Jika tujuan penelitian adalah memahami pengalaman, makna, atau proses, maka penelitian cenderung mengarah pada penelitian kualitatif. Contohnya memahami pengalaman siswa saat belajar gerak tari, memahami cara guru menggunakan media pembelajaran, atau memahami respons siswa terhadap pembacaan puisi.

Jika tujuan penelitian adalah menguji pengaruh, hubungan, atau perbedaan, maka penelitian cenderung mengarah pada penelitian kuantitatif. Contohnya menguji pengaruh model pembelajaran terhadap hasil belajar, melihat hubungan kebiasaan membaca dengan kemampuan menulis, atau membandingkan hasil belajar sebelum dan sesudah penggunaan aplikasi.

Jika tujuan penelitian adalah memperbaiki praktik pembelajaran, maka penelitian tindakan kelas dapat digunakan. Contohnya meningkatkan keterampilan membaca melalui metode tertentu, meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran tari, atau memperbaiki kemampuan menulis teks narasi melalui strategi pembelajaran tertentu.

Jika tujuan penelitian adalah menghasilkan produk, maka penelitian pengembangan lebih relevan. Contohnya mengembangkan modul ajar, media pembelajaran, bahan ajar digital, aplikasi sederhana, atau sistem informasi.

Pada bagian ini terlihat bahwa tujuan penelitian bukan hanya pelengkap proposal. Tujuan penelitian membantu mahasiswa memastikan bahwa jenis penelitian yang dipilih memang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.

Data yang Dibutuhkan Menentukan Arah Penelitian

Setelah rumusan masalah dan tujuan penelitian jelas, mahasiswa perlu bertanya: data apa yang dibutuhkan agar masalah itu bisa dijawab?

Jika penelitian membutuhkan angka, skor, nilai, persentase, atau hasil pengukuran, maka penelitian bergerak ke arah kuantitatif. Data dapat berupa nilai hasil belajar, skor angket minat baca, frekuensi kesalahan bahasa, atau persentase kepuasan pengguna sistem.

Jika penelitian membutuhkan cerita, pengalaman, percakapan, hasil wawancara, catatan observasi, atau dokumen yang perlu ditafsirkan, maka penelitian bergerak ke arah kualitatif. Data dapat berupa pengalaman siswa dalam belajar tari, strategi guru mengajarkan membaca, makna gerak dalam tari, atau cara siswa memahami tokoh dalam cerpen.

Jika penelitian membutuhkan data perubahan dari satu tindakan ke tindakan berikutnya, maka penelitian tindakan kelas dapat dipertimbangkan. Data yang dicari bukan hanya hasil akhir, tetapi juga proses tindakan, hasil pengamatan, refleksi, dan perubahan yang terjadi selama pembelajaran.

Jika penelitian membutuhkan data kebutuhan, rancangan produk, penilaian ahli, uji coba, dan revisi, maka penelitian pengembangan menjadi lebih sesuai. Data digunakan untuk merancang, menilai, dan memperbaiki produk agar lebih layak digunakan.

Di sini terlihat bahwa data bukan sekadar bahan yang dikumpulkan setelah metode dipilih. Data justru membantu menunjukkan jenis penelitian yang diperlukan. Angket, wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi adalah teknik pengumpulan data. Sementara itu, jenis penelitian ditentukan oleh cara data tersebut digunakan untuk menjawab masalah.

Unit Analisis Membuat Fokus Penelitian Lebih Jelas

Unit analisis adalah siapa atau apa yang menjadi pusat perhatian penelitian. Dengan mengetahui unit analisis, mahasiswa dapat melihat fokus penelitiannya secara lebih tajam.

Dalam penelitian pendidikan dasar, unit analisis dapat berupa siswa, guru, proses pembelajaran, hasil belajar, media ajar, atau interaksi di kelas. Dalam penelitian seni tari, unit analisis dapat berupa gerak tari, pengalaman tubuh siswa, proses latihan, strategi pembelajaran, pertunjukan, atau makna budaya. Dalam penelitian bahasa, unit analisis dapat berupa teks, kesalahan berbahasa, kemampuan menulis, proses membaca, tuturan, atau respons pembaca. Dalam penelitian sistem informasi, unit analisis dapat berupa pengguna, kebutuhan sistem, proses bisnis, antarmuka aplikasi, basis data, atau kelayakan sistem.

Unit analisis membantu mahasiswa membedakan apa yang sebenarnya sedang diteliti. Jika pusat perhatiannya adalah pengalaman siswa, penelitian kualitatif mungkin lebih sesuai. Jika pusat perhatiannya adalah skor hasil belajar, penelitian kuantitatif dapat dipilih. Jika pusat perhatiannya adalah perubahan praktik pembelajaran dalam beberapa siklus, penelitian tindakan kelas menjadi relevan. Jika pusat perhatiannya adalah produk yang dirancang dan diuji, penelitian pengembangan lebih tepat digunakan.

Contoh Perubahan Arah dari Topik ke Jenis Penelitian

Agar alurnya lebih terlihat, mari gunakan beberapa contoh.

Topik “media pembelajaran membaca” dapat diarahkan menjadi penelitian pengembangan jika masalahnya adalah belum adanya media yang sesuai dengan kebutuhan siswa kelas rendah. Topik yang sama dapat menjadi penelitian kuantitatif jika masalahnya adalah pengaruh media terhadap hasil belajar. Topik itu juga dapat menjadi penelitian kualitatif jika masalahnya adalah pengalaman siswa saat menggunakan media membaca digital.

Topik “pembelajaran tari tradisional” dapat diarahkan menjadi penelitian kualitatif jika masalahnya adalah proses siswa memahami gerak tari. Topik yang sama dapat menjadi penelitian tindakan kelas jika masalahnya adalah rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran tari dan peneliti ingin memperbaiki proses pembelajaran melalui tindakan tertentu. Jika yang dibutuhkan adalah media video pembelajaran tari, maka penelitian pengembangan dapat digunakan.

Topik “kemampuan menulis cerpen” dapat diarahkan menjadi penelitian deskriptif jika masalahnya adalah bentuk kesalahan struktur dalam cerpen siswa. Topik yang sama dapat menjadi penelitian kuantitatif jika masalahnya adalah pengaruh model pembelajaran terhadap kemampuan menulis cerpen. Jika masalahnya adalah pengalaman siswa dalam menemukan ide cerita, maka penelitian kualitatif lebih sesuai.

Topik “sistem informasi perpustakaan” dapat diarahkan menjadi penelitian pengembangan jika masalahnya adalah kebutuhan merancang sistem yang membantu pengelolaan data buku. Topik yang sama dapat menjadi penelitian deskriptif kuantitatif jika masalahnya adalah tingkat kepuasan pengguna terhadap sistem yang sudah tersedia. Jika masalahnya adalah pengalaman pengguna saat memakai sistem, maka penelitian kualitatif dapat dipertimbangkan.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa topik tidak bergerak secara tunggal. Topik yang sama dapat menghasilkan jenis penelitian yang berbeda karena masalah, tujuan, data, dan unit analisisnya berbeda.

Pola Sederhana untuk Membaca Arah Penelitian

Mahasiswa dapat menggunakan pola sederhana berikut sebagai pegangan awal.

Jika penelitian ingin menggambarkan keadaan, jenis penelitian mengarah ke deskriptif.

Jika penelitian ingin memahami pengalaman, makna, atau proses, jenis penelitian mengarah ke kualitatif.

Jika penelitian ingin menguji pengaruh, hubungan, atau perbedaan, jenis penelitian mengarah ke kuantitatif.

Jika penelitian ingin memperbaiki proses pembelajaran melalui tindakan, jenis penelitian mengarah ke penelitian tindakan kelas.

Jika penelitian ingin menghasilkan dan menguji produk, jenis penelitian mengarah ke penelitian pengembangan.

Pola ini membantu membaca arah awal penelitian. Setelah arah awal terlihat, mahasiswa tetap perlu menyesuaikannya dengan rancangan penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen, subjek penelitian, dan analisis data. Dengan begitu, pilihan jenis penelitian tidak berhenti sebagai nama, tetapi tersambung dengan keseluruhan proposal.

Penutup

Bingung memilih jenis penelitian adalah bagian yang wajar dalam proses menyusun skripsi. Kebingungan itu justru bisa menjadi titik awal yang produktif, selama mahasiswa tidak berhenti pada daftar istilah metodologis. Kualitatif, kuantitatif, deskriptif, penelitian tindakan kelas, dan penelitian pengembangan baru bermakna ketika dihubungkan dengan masalah skripsi.

Pertanyaan besarnya bukan hanya “saya harus memakai jenis penelitian apa?”, tetapi “masalah saya perlu dijawab dengan cara seperti apa?” Dari masalah, mahasiswa dapat melihat tujuan penelitian. Dari tujuan, mahasiswa dapat menentukan data yang dibutuhkan. Dari data, mahasiswa dapat mengenali unit analisis. Dari rangkaian itu, jenis penelitian mulai terlihat lebih masuk akal.

Dengan cara ini, pemilihan jenis penelitian menjadi proses berpikir yang lebih terarah. Mahasiswa tidak hanya memilih nama metode, tetapi memahami alasan di balik pilihannya. Di titik itulah proposal skripsi mulai memiliki bentuk yang lebih utuh: masalahnya jelas, datanya sesuai, dan jenis penelitiannya dapat dipertanggungjawabkan.