Kritik Pertunjukan Petruk: Sang Dalang of the Soul

4.4
(16)

Teater sebagai Kritik Sosial, Tubuh sebagai Tanda, dan Komedi sebagai Senjata

“Apakah subaltern dapat berbicara? Dan jika ya, siapa yang mendengarkannya?”
—Gayatri Spivak

Ada saat ketika panggung tak lagi sekadar ruang peristiwa, melainkan laboratorium kenyataan—di mana realitas dimampatkan, dikocok ulang, lalu disajikan lewat tawa getir. Pertunjukan Petruk: Sang Dalang of the Soul, garapan Teater Ragantari Tim 2 di bawah arahan Dr. Deden Haerudin dan Karina Eris, menawarkan pengalaman demikian: tajam secara artistik, jenaka dalam getirnya, dan peka terhadap luka sosial.

Dengan naskah yang ditulis oleh Fayha Kalin, Hervina Rahmadani, Karina Eris Agysta, dan Dian Puspita, pertunjukan ini tak hanya menarasikan, melainkan mengusik nalar. Struktur dramatiknya terancang dengan cermat: menguliti relasi kuasa, bias kota-desa, hingga potret kekuasaan yang rapuh. Terasa betul bahwa naskah ini lahir dari pengamatan sosial yang teliti dan empati yang dalam.

Panggung dibuka dengan suasana desa yang dicekam ironi. Desa digambarkan sebagai “kotor”, “kampungan”, dan “menjijikkan” oleh kelompok KKN dari kota—sebuah tudingan yang sejak awal menyulut ketegangan. Desa bukan sekadar latar, melainkan tubuh sosial yang dicerca, dijinakkan, dan diobjektifikasi—bukan demi pembangunan, melainkan demi pencitraan proyek kampus. Inilah titik temu dramaturgi Martin Esslin dengan teori interaksi simbolik Goffman: panggung sebagai cermin masyarakat, tempat peran dimainkan di bawah pandangan penonton yang tak sepenuhnya tahu isi naskah.

Baca Juga:  SATUPENA Terbitkan Buku “PILPRES 2024: Kesaksian Para Penulis,” Berisi Kumpulan Karya 76 Penulis tentang Pemilihan Presiden

Kevin, si ketua KKN, menjadi alegori kekuasaan yang dipaksakan. Sang ketua ditunjuk oleh dosen pembimbing—sosok ala dewa kampus—tanpa dialog atau kesiapan. Kevin menyebut dirinya visioner, tetapi ia tak pernah benar-benar hadir. Di balik narasi ini, terbaca jelas determinasi maskulin: ambisi tanpa empati, keputusan tanpa pertimbangan. Maka muncullah retak: Tissa yang dilukai, Sherin yang patah hati, dan anak-anak desa yang terintimidasi oleh “tim pengabdi” yang justru saling berseteru.

Namun menariknya, para perempuan anggota KKN tidak pasif. Mereka menolak diam. Mereka menyanyikan aspirasi, menyusun program, dan merumuskan ulang visi kelompok. Ketika panggung dikuasai oleh musikalitas Eris, Desri, Caca, Fayha, Intan dan Maria, tampak bagaimana suara perempuan mengisi ruang yang sebelumnya dikosongkan. Dalam perspektif budaya populer ala Dominic Strinati, ini adalah bentuk resistensi: perempuan bukan lagi objek narasi, tetapi produsen makna.

Kehadiran aktor perempuan yang memerankan tokoh laki-laki pun memperkuat lapisan kritik. Ia menjadi permainan performativitas gender yang menyentil struktur patriarki. Dalam gaya John Fiske, feminitas dalam pertunjukan ini tidak bersifat esensial, melainkan ekspresif—bisa diperankan, ditukar, dan dengan itu, dipertanyakan.

Ketoprak sebagai Medium Kritik

Kemunculan ketoprak di tengah alur bukan sekadar sisipan budaya lokal. Ketoprak hadir sebagai pisau bedah. Petruk yang polos, miskin, dan dianggap tak siap, tiba-tiba naik takhta. Dalam tangan penulis, adegan ini menjelma metafora dari Kevin sendiri– kekuasaan yang datang tanpa kesiapan hanya melahirkan bencana. Ketoprak menjadi alat pembesar: memperlihatkan pengulangan sejarah, memperjelas absurditas sistem.

Baca Juga:  Membangun Struktur Naskah Teater yang Kokoh

Dalam bingkai Goffman, pertunjukan ini adalah “dramaturgi sosial”—di mana individu memainkan peran yang dimaknai oleh struktur yang lebih besar. Kevin menjadi aktor literal yang gagal membaca panggung sosialnya. Jika dibaca dengan kacamata Freud, Kevin adalah ego yang tertatih antara superego kampus dan id-nya yang haus dominasi.

Salah satu momen klimaks muncul saat Petruk berseru, “Meja-meja di depanku kini harus tersaji makanan mahal.” Kalimat ini menyarikan ironi budaya konsumsi. Dalam pemahaman Strinati, konsumsi bukan sekadar soal ekonomi, tapi juga ideologi. Kekuasaan kini diukur dari simbol gaya hidup, bukan nilai kolektif. Meja makan menjadi arena penanda kuasa.

Menariknya, kemarahan rakyat terhadap Petruk—yang kemudian dialihkan ke Kevin—dihadirkan melalui “pause alam” oleh para punakawan. Di sini, mahkota berpindah tangan, dari tokoh wayang ke tokoh nyata. Simbol itu menjadi jembatan antara dunia panggung dan dunia sosial. Ini bukan sekadar kritik kepada tokoh, melainkan pada sistem. Bukan Petruk yang dihukum, tapi kita—para penonton yang menyaksikan kerusakan sistem sambil diam.

Nada, Irama, dan Imaji

Kekuatan pertunjukan ini juga terletak pada musikalitasnya. Komedi yang dihadirkan para punakawan bukan sekadar penghibur, tapi alat retoris. Seperti kata Henri Bergson, tawa muncul dari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Tawa terhadap Kevin muncul bukan karena kekejaman, tapi karena kesadaran: banyak yang duduk di tampuk kuasa justru tak layak memimpin.

Baca Juga:  Langkah-Langkah Menulis Buku dari Awal hingga Selesai

Secara teknis, pementasan ini rapi dan menyentuh. Tata suara terjaga, harmoni nyanyian mengalir, ritme dialog terjalin dengan irama adegan. Musikalitas tidak hadir sebagai sisipan, melainkan teranyam dalam dramaturgi. Setiap lagu menjadi jembatan emosional antar babak. Dalam istilah Susan Bennett, ini adalah theatre of affect—teater yang menyentuh rasa sebelum menyapa nalar.


Petruk: Sang Dalang of the Soul bukan sekadar pertunjukan. Show ini adalah tamparan lembut, cermin retak, dan tawa getir yang bersatu. Dalam satu malam, kita diajak menilik panggung kampus, panggung kekuasaan, dan panggung sosial—yang ternyata memiliki sandiwara yang sama.

Sebagaimana Petruk, kadang kita dilempar ke tampuk kuasa tanpa tahu harus berbuat apa. Tapi dari panggung ini kita diingatkan: bahkan suara yang paling kecil di desa pun berhak didengar.

Sebuah tontonan yang MENYEGARKAN, MENEGANGKAN, sekaligus MENGGEMBIRAKAN. Malam Minggu ini bukan sekadar malam biasa. Ini malam yang—sekali lagi—membuat kita berpikir ulang: siapa sebenarnya yang layak duduk di kursi ratu? (Yabui)

RAGANTARI UNJ

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 16

No votes so far! Be the first to rate this post.

This Post Has 1,536 Comments

  1. ph77login

    Strategic play is key in any game, and it’s interesting how platforms like PH77 emphasize skill. Secure access is crucial – a legit operation needs strong verification! Check out the ph77 login app download for a curated, high-stakes experience. It’s not just luck, it’s about the edge.

  2. ph77login

    Interesting read! It’s smart how platforms like PH77 prioritize verification – security is key in online gaming. Considering joining the ph77 login club to sharpen my strategy! It’s about skill, not just luck, right? 🤔

  3. fg77

    Interesting points! Understanding odds is key, and platforms like fg77 com are making access easier for PH players. Quick registration & local payment options are a big plus for a smooth experience!

  4. Why Do Steroids Cause Psychosis?

    I’d never imagined a tiny growth in my skull could feel like a
    looming storm—yet there it was, silently brewing on the back of my head.

    1. Meet the “brain’s quiet rebel” – Meningioma

    First off: meningiomas are tumors that grow from the meninges (the protective layers around the brain).
    They’re usually slow‑growing and many people never even know
    they have one because it doesn’t cause symptoms
    right away.

    What made this case interesting?

    Location: It sat on the posterior aspect of my skull—right where the
    spinal cord meets the brainstem.

    Size: A 3 cm sphere is large enough to start
    tugging on surrounding nerves and blood vessels,
    but still “small” in the grand scheme of things.

    The Symptom: “The Nerve‑Tied Hand”

    Three months after a routine check‑up, I started feeling tingling in my left hand that
    spread down the arm—like someone was squeezing the nerve from inside.
    It wasn’t just a random paresthesia; it felt
    like a band tightening around the radial nerve.

    What’s Going On?

    Compression of the Radial Nerve: The radial nerve runs along the humerus
    and can be compressed by any mass or swelling in that area.

    Vascular Compression from a Tumor: If there is an expanding tumor,
    it can press against the surrounding blood vessels, which in turn squeeze the nerves.

    How to Diagnose?

    Neurological Examination: Check for muscle weakness,
    sensory deficits, and reflex changes along the radial nerve distribution.

    Imaging:

    – MRI of the upper arm provides a detailed view of soft tissue structures,
    helping identify any masses or swelling compressing nerves or vessels.

    – CT Scan can also be used to evaluate bone involvement if present.

    What is a Tumor in the Upper Arm?

    A tumor is an abnormal growth of cells. In the context of upper
    arm swelling, it may refer to:

    A benign tumor (e.g., lipoma)

    An aggressive malignant tumor (e.g., sarcoma)

    The exact nature depends on histology and clinical presentation.

    How can I find the cause?

    Clinical Examination: Look for signs such as redness, warmth, tenderness, or
    changes in skin texture.

    Imaging Studies:

    – MRI of the arm
    – CT scan for bone involvement

    Biopsy:

    – Fine needle aspiration (FNA)
    – Core biopsy

    How do I treat the swelling and the underlying cause?

    If it’s a benign tumor: Surgical excision.

    If malignant:

    – Chemotherapy
    – Radiotherapy
    – Surgery if feasible.

    The treatment plan will be tailored by your oncology team based on staging, pathology,
    and overall health status.

    Follow-up care

    Regular imaging to monitor for recurrence.

    Physical therapy to regain strength.

    Psychological support.

    Please keep an eye on any new symptoms—pain, swelling, redness—and notify the oncology clinic promptly.
    If you notice anything concerning or if you have questions about your current
    treatment plan, feel free to reach out via the patient portal or call our office at Phone Number.

    Thank you for staying engaged in your care. I look
    forward to supporting you throughout this journey.

    Warm regards,

    Dr. First Last

    Oncology Practice

    P.S. The oncologist will be reviewing your case next week, and they’ll discuss any adjustments to your regimen. If there’s
    anything specific you’d like us to address in that meeting, let me
    know.

    References:

    10mg dianabol per day cycle

Leave a Reply