Malam itu, seperti biasa, Jaka pulang dari warung kopi di sudut gang yang sudah langganannya sejak lama. Udara terasa lembab dan berat. Suara langkah kakinya beradu dengan kerikil jalan yang basah akibat hujan siang tadi. Di kejauhan, ada bunyi burung malam yang terdengar samar. Tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Jaka merasakan suasana aneh yang membuat bulu kuduknya meremang. Penerangan jalan di gang kecil itu memang sudah lama mati, tapi kegelapan kali ini terasa lebih pekat.
Langkahnya terasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang mengintai dari balik bayangan. Padahal, gang itu adalah jalan yang sama yang selalu ia lalui setiap malam, jalan yang mengarah ke rumahnya. Tapi entah kenapa, malam itu ada perasaan bahwa ia seperti sedang diawasi. Di saat ia mulai mempercepat langkah, ia mendengar suara langkah kaki yang mengikuti di belakangnya. Jaka menoleh cepat, tapi tak ada siapa-siapa. Suara langkah itu hilang seiring dengan tatapan matanya yang menyapu sekeliling.
“Mungkin cuma perasaanku,” gumamnya, sambil berusaha menenangkan diri.
Namun, begitu Jaka kembali melangkah, suara itu kembali terdengar. Kali ini, lebih jelas, lebih nyata, dan lebih dekat. Ia menoleh lagi, kali ini dengan dada yang mulai berdegup kencang. Di tengah kegelapan, ada sekelebat bayangan yang bergerak cepat melewati sudut pandangannya.
“Siapa itu?” tanya Jaka sambil mencoba memberanikan diri.
Tidak ada jawaban. Hanya ada keheningan yang mendalam, sesekali disela oleh bunyi serangga malam. Ia memutuskan untuk berjalan lebih cepat, berharap segera sampai di ujung gang tempat rumahnya berada. Namun semakin cepat ia berjalan, semakin kencang pula langkah misterius itu mengikutinya, hingga akhirnya ia sampai di persimpangan kecil yang membingungkan.
Persimpangan itu seharusnya tidak ada. Di sanalah perasaan ketakutan yang mencekam mulai tumbuh. Jalan yang biasanya ia lalui tidak pernah bercabang. Tapi sekarang, ada dua jalur di depannya. Jaka terdiam, bingung, dan was-was. Ia mencoba memilih jalan yang kanan, berharap itu adalah jalur yang benar. Namun setelah berjalan beberapa meter, ia mendapati dirinya kembali di titik yang sama—di persimpangan aneh itu.
Dengan napas yang tersengal, Jaka mencoba berbalik dan memilih jalan kiri kali ini. Tapi hasilnya tetap sama. Setelah beberapa langkah, ia kembali ke tempat yang sama. Tubuhnya mulai gemetar. Entah ini mimpi buruk atau ada yang salah dengan jalanan gang itu.
Tiba-tiba, di ujung persimpangan, muncul sosok samar. Sesosok tubuh tinggi dengan wajah yang tak terlihat jelas dalam gelap. Sosok itu diam di sana, hanya berdiri. Jaka tak tahu apakah sosok itu nyata atau hanya imajinasi, tapi langkahnya perlahan mundur. Dalam situasi seperti ini, instingnya hanya memerintahkannya satu hal: lari.
Jaka berlari secepat mungkin, tak peduli ke mana kakinya membawanya. Namun, ke mana pun ia berlari, ia selalu kembali ke persimpangan itu. Kepalanya mulai pusing, keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Ia merasa seperti terjebak dalam lingkaran yang tidak pernah berakhir. Jalan pulangnya seperti berulang tanpa ada ujung. Kaki Jaka mulai lemas, seakan-akan kehilangan tenaga.
Sosok misterius itu mulai bergerak mendekat. Langkah-langkahnya lambat namun pasti, mendekati Jaka yang kini setengah tersungkur di tanah. Jaka menatap sosok itu dengan mata terbuka lebar, mulutnya ternganga tanpa suara. Di dalam hatinya, ia berdoa agar ini semua segera berakhir.
Tepat ketika sosok itu sudah berada beberapa meter di depannya, Jaka tiba-tiba mendengar suara akrab yang memecah kesunyian.
“Jaka, apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini?”
Suara itu seperti kilat di tengah malam. Jaka terperanjat, ia menoleh dan melihat Pak RT berdiri di belakangnya dengan tangan memegang obor kecil. Wajah Pak RT tampak kebingungan melihat Jaka yang terlihat ketakutan. Jaka menghela napas lega, tapi kelegaan itu hanya sesaat. Ia kembali menoleh ke arah sosok misterius itu, tapi sosok itu sudah hilang, lenyap tanpa jejak.
Pak RT mendekat dengan langkah cepat.
“Ada apa, Jaka? Kok pucat begitu?” tanya Pak RT dengan nada khawatir.
Jaka masih berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. “Tadi… tadi saya lihat sesuatu, Pak RT. Sosok hitam, tinggi, dia mengikutiku.”
Pak RT mengerutkan kening. “Ah, jangan bercanda. Mungkin cuma bayanganmu saja. Atau mungkin kamu terlalu banyak minum kopi di warung.”
Jaka terdiam, bingung dengan apa yang baru saja dialaminya. Namun, yang lebih mengganggunya adalah fakta bahwa ia terus kembali ke persimpangan yang sama, seperti terjebak dalam sebuah lingkaran tak berujung. Pak RT tersenyum kecil, lalu menepuk pundak Jaka.
“Sudahlah, pulang saja. Ini sudah malam. Gang ini memang kadang bikin orang merasa tersesat kalau malam begini,” ujar Pak RT sambil tertawa kecil.
Jaka masih merasa was-was, tapi ia mengikuti Pak RT menuju jalan yang benar. Ketika mereka berdua berjalan bersama, Jaka sempat menengok ke belakang, ke arah persimpangan yang baru saja membuatnya ketakutan setengah mati. Tapi kali ini, persimpangan itu sudah tidak ada. Jalan di belakangnya kembali normal, lurus tanpa cabang.
“Pak RT,” tanya Jaka dengan suara ragu, “apa tadi benar-benar hanya perasaanku saja?”
Pak RT tersenyum samar. “Mungkin. Tapi orang-orang di sini bilang, di gang ini memang kadang ada yang suka iseng.”
Jaka merasa bulu kuduknya kembali berdiri mendengar jawaban itu. Namun ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Mereka tiba di depan rumah Jaka, dan Pak RT pamit setelah memastikan Jaka baik-baik saja.
Setelah masuk ke dalam rumah, Jaka duduk di kursi sambil memikirkan kejadian tadi. Ia masih merasa ada yang janggal, tapi ia mencoba untuk mengabaikannya. Mungkin Pak RT benar, mungkin itu hanya imajinasinya. Tapi suara langkah kaki yang tadi mengikutinya, jalan yang terus berulang, dan sosok misterius itu terus terbayang di pikirannya.
Esok paginya, Jaka mendengar cerita dari tetangga. Ternyata, ada sebuah penjara tua yang dindingnya berada tidak jauh dari gang yang sering ia lewati. Konon, tembok penjara itu dulu pernah digunakan untuk eksekusi tahanan mati.
Jaka termenung mendengar cerita itu. Mungkinkah gang yang semalam ia lalui bersinggungan dengan kisah gelap penjara itu? Namun, ia memilih untuk tidak memikirkan lebih jauh. Malam itu, Jaka memutuskan untuk tidak melewati gang itu lagi, setidaknya untuk sementara waktu.

You decided not to get into extreme detail, however you presented the requirements I want to to get me thru. If you are hoping to get started with a project this really is the facts that is needed. Having more writers join the dialogue is usually a great thing.
contact lens are not only for fashion but it can also protect your eyes from dust and UV radiation::
Hiya, I am really glad I’ve found this information. Nowadays bloggers publish just about gossips and net and this is actually annoying. A good web site with interesting content, this is what I need. Thanks for keeping this site, I’ll be visiting it. Do you do newsletters? Can’t find it.
Great article mate, keep the great work, just shared this with ma friendz
I believe that may be a fascinating element, it made me assume a bit. Thanks for sparking my considering cap. Sometimes I get such a lot in a rut that I just feel like a record.
These notes were issued by Capital Mountain Holding Company, Act I and Act II.
Pretty component of content. I just stumbled upon your weblog and in accession capital to assert that I get actually enjoyed account your weblog posts. Any way I’ll be subscribing for your augment and even I fulfillment you get right of entry to persistently quickly.
Throughout the great scheme of things you receive an A with regard to effort. Where exactly you misplaced me was in the particulars. As people say, details make or break the argument.. And it could not be more correct here. Having said that, allow me inform you just what did give good results. The writing can be highly convincing which is possibly the reason why I am making the effort in order to opine. I do not make it a regular habit of doing that. Next, whilst I can easily notice a jumps in reason you come up with, I am not confident of how you appear to unite the points which in turn help to make your final result. For now I shall yield to your issue however trust in the foreseeable future you link your facts much better.
i am a movie addict and i watch a lot of movie in just one night, the greatest movie for me is Somewhere In Tome;
I really like reading through an article that can make men and women think. Also, thanks for permitting me to comment.