Tawa riuh anak-anak mengisi udara sore di gang sempit, sementara matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Fahri, Roni, dan Agus, tiga bocah yang selalu bermain bersama, sudah terbiasa menghabiskan waktu dengan permainan petak umpet di gang-gang itu. Sudut-sudut gelap, pintu-pintu tak berpenghuni, dan tembok penuh coretan menjadi latar bagi tawa dan canda mereka.
“Ayo, satu… dua… tiga…,” hitungan Agus menggemakan gang sempit. Fahri dan Roni segera mencari tempat persembunyian.
Fahri dengan cekatan berlari ke arah sebuah rumah kosong di ujung gang. Rumah itu sudah lama tak berpenghuni, dikelilingi pagar karatan dan pintu kayu tua yang sedikit menganga. Fahri pernah mendengar cerita-cerita seram tentang rumah itu—katanya ada penghuni gaib yang sering terlihat di jendelanya. Tapi Fahri tidak percaya pada cerita hantu, baginya itu cuma bualan orang dewasa untuk menakut-nakuti anak kecil.
Ia mendorong pintu rumah yang berderit pelan dan menyelinap masuk. Suasana di dalam terasa dingin dan sepi. Lantai kayu yang berdebu menyambut langkahnya, sementara cahaya matahari yang tersisa hanya menyinari sebagian kecil ruangan. Fahri menyembunyikan dirinya di balik sebuah lemari tua yang setengah terbuka, tempat yang sempurna untuk tidak terlihat.
“Dia nggak bakal nemuin aku di sini,” gumam Fahri pada dirinya sendiri, sambil tersenyum puas.
Waktu berlalu. Suara langkah kaki Agus terdengar semakin jauh. Namun, ada sesuatu yang aneh. Biasanya, Fahri bisa mendengar Roni juga, menggerutu atau bersuara saat Agus mencoba mencari mereka, tapi sekarang hening—terlalu hening. Fahri mencoba mengintip dari celah pintu lemari, hanya untuk memastikan bahwa Agus masih mencari mereka.
Tiba-tiba, Fahri merasa ada yang tidak beres. Dalam keheningan itu, ia mendengar suara napas. Bukan napasnya sendiri. Napas itu terdengar halus, namun jelas sekali berasal dari dalam ruangan tempat ia bersembunyi.
Fahri membeku. Ia menahan napas, mencoba mendengarkan lebih jelas. Suara napas itu semakin dekat, seolah ada seseorang—atau sesuatu—di dekatnya. Jantung Fahri berdegup kencang. Dengan perlahan, ia berbalik dan melihat ke dalam lemari. Tidak ada apa-apa, hanya debu dan pakaian lusuh yang sudah lapuk. Namun, perasaan ada yang memperhatikannya tak kunjung hilang.
“Agus? Roni?” Fahri memanggil, suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban. Ia mulai merasa kakinya gemetar. Segera, ia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Tapi saat ia akan membuka pintu lemari, terdengar ketukan pelan di pintu rumah, diikuti suara yang lembut, hampir berbisik, “Sudah ketemu?”
Fahri menahan napas. Itu bukan suara Agus. Suara itu terdengar jauh lebih tua, lebih berat, dan mengerikan. Ketakutan mulai merayapi dirinya, namun ia berusaha tetap tenang. Dengan perlahan, ia keluar dari lemari dan menuju pintu depan. Langkahnya hati-hati, berusaha tidak membuat suara.
Ketika ia membuka pintu rumah, kegelapan sudah menyelimuti gang. Agus dan Roni tidak terlihat di mana pun. Hanya ada kesunyian yang mencekam. Fahri merasa semakin bingung. Tiba-tiba, di ujung gang, ia melihat sosok yang bergerak pelan, hampir seperti bayangan yang melayang. Sosok itu mengenakan kain putih, dan semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
Fahri mundur dengan cepat, terantuk pada batu kecil di belakangnya. Sosok itu berhenti, berdiri diam di ujung gang, seolah-olah mengamatinya. Lalu, dari belakangnya, muncul suara lain.
“Hai… sudah ketemu?”
Fahri berbalik. Kali ini ia benar-benar yakin bahwa suara itu datang dari belakangnya, lebih dekat dari yang tadi. Dengan napas tersengal, ia berlari secepat yang ia bisa keluar dari gang, tanpa berani menoleh lagi.
Ketika ia sampai di rumah Roni, kedua temannya sudah duduk santai di depan teras, tampak tidak mengalami apa-apa. Mereka tertawa saat melihat Fahri yang terengah-engah dengan wajah pucat.
“Kenapa kamu? Takut hantu, ya?” ejek Roni, sambil tertawa.
Fahri tidak bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Suara-suara itu, sosok misterius di ujung gang, semuanya terasa begitu nyata. Tapi saat ia melihat Agus dan Roni, mereka tampak seperti tidak tahu apa-apa. Mungkinkah itu hanya imajinasinya? Atau ada sesuatu yang benar-benar menghantui rumah kosong itu?

References:
Anavar only before and after pics
References:
https://molchanovonews.ru/
mejor casa de apuestas que es doble oportunidad en apuestas méxico
mejor app Apuestas deportivas (http://www.braintechinnovation.com) multiples
References:
Anavar before or after workout
References:
historydb.date
result of steroids
References:
saveyoursite.date
anabolic enhancer supplements
References:
sfenglishlessons.com
buy roids
References:
menwiki.men
%random_anchor_text%
References:
https://botdb.win/wiki/Trenbolone_Acquista_online_in_Italia_Trenbolone_Il_prezzo_corrisponde_alla_qualit
valencia getafe casas De apuestas mejores Bonos
?Alcemos nuestros brindis por cada vencedor del premio mayor !
Algunos casinossinverificacion tambiГ©n permiten a los jugadores participar en torneos y competiciones. [url=http://casinossinverificacion.vercel.app/][/url]. Esto aГ±ade un elemento emocionante a la experiencia de juego, ya que los jugadores pueden competir entre sГ en busca de grandes premios. Estas competiciones fomentan un sentido de comunidad y hacen que el juego sea aГєn mГЎs entretenido.
Los crypto casinos no KYC han ganado popularidad entre los entusiastas de las criptomonedas. Estos plataformas permiten jugar sin necesidad de verificar la identidad del jugador. La privacidad y la seguridad son mГЎximas en este tipo de sitios de apuestas.
Casino sin kyc: diversiГіn sin ataduras legales – http://casinossinverificacion.vercel.app/
?Que la fortuna avance contigo con festejos interminables jugadas victoriosas !