Kritik Pertunjukan Petruk: Sang Dalang of the Soul

4.4
(16)

Teater sebagai Kritik Sosial, Tubuh sebagai Tanda, dan Komedi sebagai Senjata

“Apakah subaltern dapat berbicara? Dan jika ya, siapa yang mendengarkannya?”
—Gayatri Spivak

Ada saat ketika panggung tak lagi sekadar ruang peristiwa, melainkan laboratorium kenyataan—di mana realitas dimampatkan, dikocok ulang, lalu disajikan lewat tawa getir. Pertunjukan Petruk: Sang Dalang of the Soul, garapan Teater Ragantari Tim 2 di bawah arahan Dr. Deden Haerudin dan Karina Eris, menawarkan pengalaman demikian: tajam secara artistik, jenaka dalam getirnya, dan peka terhadap luka sosial.

Dengan naskah yang ditulis oleh Fayha Kalin, Hervina Rahmadani, Karina Eris Agysta, dan Dian Puspita, pertunjukan ini tak hanya menarasikan, melainkan mengusik nalar. Struktur dramatiknya terancang dengan cermat: menguliti relasi kuasa, bias kota-desa, hingga potret kekuasaan yang rapuh. Terasa betul bahwa naskah ini lahir dari pengamatan sosial yang teliti dan empati yang dalam.

Panggung dibuka dengan suasana desa yang dicekam ironi. Desa digambarkan sebagai “kotor”, “kampungan”, dan “menjijikkan” oleh kelompok KKN dari kota—sebuah tudingan yang sejak awal menyulut ketegangan. Desa bukan sekadar latar, melainkan tubuh sosial yang dicerca, dijinakkan, dan diobjektifikasi—bukan demi pembangunan, melainkan demi pencitraan proyek kampus. Inilah titik temu dramaturgi Martin Esslin dengan teori interaksi simbolik Goffman: panggung sebagai cermin masyarakat, tempat peran dimainkan di bawah pandangan penonton yang tak sepenuhnya tahu isi naskah.

Baca Juga:  Cara Mengembangkan Karakter dalam Naskah Teater

Kevin, si ketua KKN, menjadi alegori kekuasaan yang dipaksakan. Sang ketua ditunjuk oleh dosen pembimbing—sosok ala dewa kampus—tanpa dialog atau kesiapan. Kevin menyebut dirinya visioner, tetapi ia tak pernah benar-benar hadir. Di balik narasi ini, terbaca jelas determinasi maskulin: ambisi tanpa empati, keputusan tanpa pertimbangan. Maka muncullah retak: Tissa yang dilukai, Sherin yang patah hati, dan anak-anak desa yang terintimidasi oleh “tim pengabdi” yang justru saling berseteru.

Namun menariknya, para perempuan anggota KKN tidak pasif. Mereka menolak diam. Mereka menyanyikan aspirasi, menyusun program, dan merumuskan ulang visi kelompok. Ketika panggung dikuasai oleh musikalitas Eris, Desri, Caca, Fayha, Intan dan Maria, tampak bagaimana suara perempuan mengisi ruang yang sebelumnya dikosongkan. Dalam perspektif budaya populer ala Dominic Strinati, ini adalah bentuk resistensi: perempuan bukan lagi objek narasi, tetapi produsen makna.

Kehadiran aktor perempuan yang memerankan tokoh laki-laki pun memperkuat lapisan kritik. Ia menjadi permainan performativitas gender yang menyentil struktur patriarki. Dalam gaya John Fiske, feminitas dalam pertunjukan ini tidak bersifat esensial, melainkan ekspresif—bisa diperankan, ditukar, dan dengan itu, dipertanyakan.

Ketoprak sebagai Medium Kritik

Kemunculan ketoprak di tengah alur bukan sekadar sisipan budaya lokal. Ketoprak hadir sebagai pisau bedah. Petruk yang polos, miskin, dan dianggap tak siap, tiba-tiba naik takhta. Dalam tangan penulis, adegan ini menjelma metafora dari Kevin sendiri– kekuasaan yang datang tanpa kesiapan hanya melahirkan bencana. Ketoprak menjadi alat pembesar: memperlihatkan pengulangan sejarah, memperjelas absurditas sistem.

Baca Juga:  Merayakan Kreativitas: Festival Puisi Esai Jakarta II, 2024

Dalam bingkai Goffman, pertunjukan ini adalah “dramaturgi sosial”—di mana individu memainkan peran yang dimaknai oleh struktur yang lebih besar. Kevin menjadi aktor literal yang gagal membaca panggung sosialnya. Jika dibaca dengan kacamata Freud, Kevin adalah ego yang tertatih antara superego kampus dan id-nya yang haus dominasi.

Salah satu momen klimaks muncul saat Petruk berseru, “Meja-meja di depanku kini harus tersaji makanan mahal.” Kalimat ini menyarikan ironi budaya konsumsi. Dalam pemahaman Strinati, konsumsi bukan sekadar soal ekonomi, tapi juga ideologi. Kekuasaan kini diukur dari simbol gaya hidup, bukan nilai kolektif. Meja makan menjadi arena penanda kuasa.

Menariknya, kemarahan rakyat terhadap Petruk—yang kemudian dialihkan ke Kevin—dihadirkan melalui “pause alam” oleh para punakawan. Di sini, mahkota berpindah tangan, dari tokoh wayang ke tokoh nyata. Simbol itu menjadi jembatan antara dunia panggung dan dunia sosial. Ini bukan sekadar kritik kepada tokoh, melainkan pada sistem. Bukan Petruk yang dihukum, tapi kita—para penonton yang menyaksikan kerusakan sistem sambil diam.

Nada, Irama, dan Imaji

Kekuatan pertunjukan ini juga terletak pada musikalitasnya. Komedi yang dihadirkan para punakawan bukan sekadar penghibur, tapi alat retoris. Seperti kata Henri Bergson, tawa muncul dari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Tawa terhadap Kevin muncul bukan karena kekejaman, tapi karena kesadaran: banyak yang duduk di tampuk kuasa justru tak layak memimpin.

Baca Juga:  SATUPENA Terbitkan Buku “PILPRES 2024: Kesaksian Para Penulis,” Berisi Kumpulan Karya 76 Penulis tentang Pemilihan Presiden

Secara teknis, pementasan ini rapi dan menyentuh. Tata suara terjaga, harmoni nyanyian mengalir, ritme dialog terjalin dengan irama adegan. Musikalitas tidak hadir sebagai sisipan, melainkan teranyam dalam dramaturgi. Setiap lagu menjadi jembatan emosional antar babak. Dalam istilah Susan Bennett, ini adalah theatre of affect—teater yang menyentuh rasa sebelum menyapa nalar.


Petruk: Sang Dalang of the Soul bukan sekadar pertunjukan. Show ini adalah tamparan lembut, cermin retak, dan tawa getir yang bersatu. Dalam satu malam, kita diajak menilik panggung kampus, panggung kekuasaan, dan panggung sosial—yang ternyata memiliki sandiwara yang sama.

Sebagaimana Petruk, kadang kita dilempar ke tampuk kuasa tanpa tahu harus berbuat apa. Tapi dari panggung ini kita diingatkan: bahkan suara yang paling kecil di desa pun berhak didengar.

Sebuah tontonan yang MENYEGARKAN, MENEGANGKAN, sekaligus MENGGEMBIRAKAN. Malam Minggu ini bukan sekadar malam biasa. Ini malam yang—sekali lagi—membuat kita berpikir ulang: siapa sebenarnya yang layak duduk di kursi ratu? (Yabui)

RAGANTARI UNJ

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 16

No votes so far! Be the first to rate this post.

This Post Has 871 Comments

  1. bizzo casino bonus code

    Das Buffet-Restaurant Panoramic mit seinem erstklassigen Blick auf
    das Meer, das Dockside mit seiner unglaublichen Terrasse mit Meerblick und das ON mit seiner Terrasse mit Blick auf den Pool.
    Wenn Sie ein Abendessen in Begleitung von Live-Musik oder Tanzshows bevorzugen, empfehlen wir
    Ihnen das Restaurant Bahia im Casino da Madeira. Die Studios
    sind geräumig und verfügen über eine moderne,
    minimalistische Einrichtung. Rezeption am Wochenende 24 Stunden besetzt Sind die Hotelzimmer mit einer Klimaanlage ausgestattet?

    Es befindet sich direkt am Kreuzfahrthafen in der Bucht von Funchal,
    nur fünf Minuten zu Fuß vom Stadtzentrum und dem Mittelpunkt des
    gesellschaftlichen und kulturellen Lebens entfernt.Mit seiner
    Lage direkt am Meer ist das Hotel eines der
    beliebtesten der Insel Madeira. Zu diesem Anlass,
    der die Insel weit über ihre Grenzen hinaus bekannt
    gemacht hat, sind die Straßen in ein buntes, duftendes Blumenmeer gehüllt.
    Auf der fantastischen Außenterrasse mit Blick auf den Yachthafen und das Meer können Sie täglich
    ein köstliches Mittagessen à la Carte und den ganzen Tag über erfrischende Getränke genießen. Während Ihres Aufenthalts können Sie eine Vielzahl
    von Magic SPA-Massagen und -Behandlungen sowie einen beheizten Innenpool mit Wasserdüsen genießen.
    Der Pool auf der Dachterrasse, der Personen über 16 Jahren vorbehalten ist, ist der ideale
    Ort, um ruhige Momente unter der Sonne Madeiras zu genießen.

    References:
    https://online-spielhallen.de/quick-win-casino-cashback-ihr-weg-zu-mehr-spielguthaben/

  2. Premier function venue

    The Team at Casino Canberra are passionate about delivering modern and innovative
    Chinese cuisine and sports bar offerings, balanced
    with an enjoyable guest experience. Don’t miss out on this
    amazing experience and a night you won’t forget, book
    your tickets now to secure a spot! Casino Canberra is hosting an unforgettable all-inclusive Taste Festival, so get ready to indulge yourself in sensational wine, craft spirits, and decadent food.

    Casino Canberra is a European-style tables game casino with bars,
    restaurants and a nightclub. Book your table now and
    make this Christmas in July a truly magical experience at the Canberra Casino.
    Located on the main floor—onyx lounge features access to the main bar and gaming
    tables all in front of the big screen Also featured in the gaming room are the casino’s
    blackjack tournaments, which are held over two days.
    In that way, it’s like blackjack and many other table
    games. The casino has managed to more than double its current terminals to 50, in order to create a “multi-terminal” stadium
    for gaming.

    References:
    https://blackcoin.co/two-handed-pinochle-poker-professional-tips-for-playing-and-winning/

  3. high roller slots

    Additionally, The Ville follows responsible gambling
    guidelines, implementing harm minimization strategies
    in compliance with Australian regulations. This encryption technology ensures that all transactions are
    secure, and players’ information is safeguarded
    from unauthorized access. Compliance with these regulations is
    mandatory for operating in Australia, guaranteeing
    a safe and regulated environment for players.
    Islands, reefs, sundrenched beaches that go on forever.
    The playful spirit of modern Australia comes to
    life with world-class cuisine and entertainment in lush tropical surrounds
    at The Ville. For those who want a residence, not just a hotel room, the spacious Corner
    Suites make for a luxurious retreat. Check out our How
    to Play Guides if you want to know more about our games.

    References:
    https://blackcoin.co/luck-nation-casino-real-money-pokies-australia/

Leave a Reply