
Suara gesekan rantai terdengar samar di sela-sela angin sore yang membawa aroma hujan. Reno mempercepat langkahnya, melewati rel kereta di Pisangan Lama, seperti biasa ia terburu-buru menuju rumah. Jalan pintas ini sudah menjadi rutinitas, namun hari itu ada sesuatu yang berbeda. Di seberang rel, tak jauh dari deretan rumah-rumah tua yang berdiri sepi, tampak sebuah sepeda kecil berwarna merah jambu tergeletak begitu saja. Tak ada anak-anak, tak ada suara tawa atau jerit kebahagiaan—hanya sepeda yang terdiam di antara rumah-rumah kusam yang memandangnya dengan jendela-jendela kosong.
Reno berhenti sejenak. Ada perasaan tak nyaman yang menyelimutinya. Sepeda itu tampak masih baru, ban-nya bersih, dan seolah belum pernah digunakan. Tapi apa yang dilakukannya di sini? Di tempat yang sudah lama ditinggalkan orang? Rumah-rumah di sekitar sini dikenal tak berpenghuni sejak beberapa tahun terakhir, ketika warga sekitar mulai pindah karena proyek pelebaran jalan yang tak kunjung selesai.
Ia menelan ludah, menimbang apakah ia harus melewati sepeda itu atau memutar. Namun suara gemeretak rantai sepeda tiba-tiba terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih dekat. Reno menengok ke kiri, lalu ke kanan. Tidak ada apa-apa. Namun hatinya terusik.
“Hati-hati dengan apa yang kamu tinggalkan,” kata seseorang dulu kepadanya. Kalimat itu muncul di kepalanya, entah dari mana.
Perasaan itu terus menghantuinya saat ia melangkah lebih dekat ke sepeda. Setiap kali langkahnya mendekat, perasaan asing di dalam dirinya semakin menguat. Sepeda itu tampak tak bergerak, tapi seolah ada sesuatu di sekitarnya yang menarik Reno masuk ke dalam pusaran misterinya.
Saat ia hampir menyentuh setang sepeda, tiba-tiba sebuah suara kecil terdengar.
“Bang… sepeda aku kenapa, Bang?”
Reno tersentak mundur. Seorang bocah kecil, tak lebih dari delapan tahun, berdiri di sampingnya. Bocah itu muncul begitu saja, tanpa suara, tanpa kehadiran yang terasa sebelumnya. Wajahnya pucat, matanya menatap lurus ke arah sepeda, bukan ke arah Reno. Baju bocah itu basah, seperti baru saja kehujanan.
“Apa… apa kau tadi yang meninggalkan sepeda ini?” tanya Reno terbata.
Bocah itu hanya menunduk, bibirnya bergerak perlahan, tapi kata-katanya tenggelam dalam bunyi gesekan rantai yang kembali terdengar. Sepeda itu, yang tadinya diam, kini bergerak sendiri. Roda depan berputar perlahan, seolah mengajak Reno untuk bermain.
“Bang, temani aku main sepeda…,” pinta bocah itu dengan nada yang aneh—separuh harap, separuh perintah.
Reno mundur beberapa langkah. Tubuhnya gemetar tanpa kendali. Tiba-tiba semuanya terasa salah, sangat salah. Ia harus pergi dari sini, sekarang juga.
Namun sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, sepeda itu bergerak lagi, meluncur pelan di antara rumah-rumah kosong. Bocah kecil itu berjalan di sampingnya, menuntun sepeda yang terus berputar tanpa kendali. Wajah bocah itu tetap kosong, matanya tak berkedip, menatap lurus ke depan, melewati Reno.
Reno mencoba berbalik, tapi kakinya terasa berat, seperti ada yang menariknya kembali. Ia melirik ke bawah dan melihat tangan bocah itu, yang kini memegang kakinya dengan erat. Jemarinya dingin, membekukan.
“Aku nggak mau sendirian, Bang. Temani aku main…” suara bocah itu semakin mendesak.
Reno memaksa kakinya untuk bergerak, tapi semakin ia mencoba, semakin kuat pegangan bocah itu. Ia merasa seolah terperangkap di tengah mimpi buruk yang tak bisa dihindari. Pikirannya memutar kenangan lama, saat ia sendiri pernah meninggalkan seorang teman kecil di taman bermain, dengan janji untuk kembali yang tak pernah ia tepati.
Kenangan itu menghantamnya keras.
“Maaf…” bisik Reno, tanpa sadar.
Dan seketika itu, bocah itu berhenti. Wajahnya berubah, senyum kecil muncul di bibirnya, tapi ada sesuatu yang tak wajar dalam senyum itu. Ia perlahan melepas pegangan tangannya, lalu melangkah mundur bersama sepedanya, meninggalkan Reno yang kini terengah-engah.
Sepeda itu melaju perlahan, semakin menjauh, diikuti oleh tawa kecil bocah yang semakin samar. Reno tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa berdiri memandang ke arah punggung bocah itu yang menghilang di tikungan.
Namun, sebelum sosok bocah itu lenyap sepenuhnya, terdengar suara yang masih menghantuinya sampai sekarang.
“Bang, lain kali jangan tinggalin aku, ya…”
References:
Aspers casino milton keynes
References:
humanlove.stream
References:
Hoyle casino
References:
olson-irwin-2.blogbright.net
Cat Casino в 2025 — эталонный выбор
для тех, кто ценит честную игру, мгновенные выплаты и эксклюзивный контент.
References:
Souper spectacle montreal
References:
https://hack.allmende.io/s/JVPkWA7CJ
My developer is trying to persuade me to move to .net from PHP. I have always disliked the idea because of the costs. But he’s tryiong none the less. I’ve been using WordPress on a variety of websites for about a year and am nervous about switching to another platform. I have heard very good things about blogengine.net. Is there a way I can transfer all my wordpress content into it? Any kind of help would be really appreciated!
References:
Riviera casino las vegas
References:
vincent-moody-2.technetbloggers.de
Interdisciplinary links in OMT’ѕ lessons ѕһow mathematics’ѕ convenience, triggering
interest and inspiration fߋr test accomplishments.
Сhange math difficulties іnto victories ѡith OMT Math Tuition’ѕ mix of online and
on-site options, Ƅacked by ɑ track record оf student quality.
Ꮃith math integrated flawlessly іnto Singapore’ѕ classroom settings tօ benefit both teachers and
trainees, dedicated math tuition amplifies tһese gains by offering customized
support fοr sustained accomplishment.
primary school math tuition develops exam endurance tһrough
timed drills, mimicking tһе PSLE’s two-paper format and helping
trainees manage tіme efficiently.
Customized math tuition іn hіgh school addresses individual finding оut spaces іn topics like calculus and data, avoiding
tһem from preventing Օ Level success.
Tuition ɡives techniques for time management thгoughout tһe prolonged A Level math tests, allowing pupils
tⲟ allot efforts ѕuccessfully acr᧐ss sections.
OMT’s ᧐ne-of-ɑ-kind mathematics program complements tһе MOE educational
program ƅy including proprietary ϲase studies tһat use mathematics to genuine Singaporean contexts.
Αll natural approach іn online tuition one, nurturing not simply skills уet enthusiasm for mathematics аnd ultimate quality success.
Tuition teachers іn Singapore սsually have insider
understanding oof test patterns, leading trainees to concentrate on һigh-yield subjects.
my webpage; physics and maths tutor c2
References:
The grand casino
References:
king-bookmark.stream
This design is incredible! You most certainly know how to keep a reader entertained. Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog (well, almost…HaHa!) Fantastic job. I really enjoyed what you had to say, and more than that, how you presented it. Too cool!
Amazing! This blog looks exactly like my old one! It’s on a completely different topic but it has pretty much the same page layout and design. Excellent choice of colors!